Bahan Skripsi BPI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

 Anak merupakan generasi muda sebagai sumber daya manusia penerus citacita perjuangan bangsa dalam pembangunan nasional. Generasi muda diharapkan menjadi manusia berkualitas dan mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa. Manusia berkualitas yang dimaksud tentunya bukan hanya dipandang dari ilmu pengetahuan yang mereka miliki namun juga karakternya.

 Pendidikan karakter merupakan salah satu sarana soft skill yang perlu menjadi perhatian pihak sekolah. Rendahnya nilai moral pada kehidupan manusia terutama siswa di lembaga pendidikan menuntut lembaga pendidikan itu sendiri untuk bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan karakter. Menurut Muhsinin, pendidikan Karakter adalah term atau istilah yang secara longgar digunakan untuk menggambarkan bagaimana mengajar anak- anak dengan cara yang dapat membantu mereka mengembangkan beragam kemampuan seperti moral, sipil, sopan santun, berperilaku yang baik, sehat, kritis, sukses, tradisional, sesuai dan atau diterima oleh kehidupan sosial.1

Berdasarkan hal di atas dapat diketahui bahwa, pendidikan karakter adalah pendidikan yang berupaya dengan sengaja untuk mengembangkan kemampuan siswa yang terkait dengan penalaran moral, tindakan moral, sopan santun, berperilaku yang baik, pengembangan kognitif, intelektual, kritis, yang sesuai serta dapat diterima dalam kehidupan sosial. Selanjutnya Zubaedi menjelaskan bahwa : 

Pendidikan karakter juga diartikan sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, masyarakat dan lingkungannya.2

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa, pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan untuk membantu penanaman kecerdasan dalam

1Muhsinin, “Model Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam untuk Membentuk Karakter Siswa yang Toleran,” Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 8 no. 2 (2013) : 209.

2Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter : Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. (Jakarta: Kencana, 2011), h. 17.

berfikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya. Sumantri menjelaskan bahwa, pembentukan watak atau karakter tentunya harus dimulai dari pribadi atau diri sendiri, dalam keluarga (sebagai sel inti bangsa) terutama orang tua sebagai pendidiknya. Pembentukan karakter merupakan “mega proyek” yang sungguh tidak mudah, membutuhkan usaha, dan energi yang tidak sedikit. Dibutuhkan komitmen, ketekunan, keuleten, proses, metode, waktu, dan yang terpenting adalah keteladanan. Masalah keteladanan ini menjadi barang langka pada masa kini dan tentu sangat dibutuhkan dalam sebuah bangsa yang sedang mengalami krisis kepercayaan multidimensional.[1]

Berdasarkan hal di atas dapat dipahami bahwa pembentukan karakter harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga, terutama bagi orang tua sebagai tempat anak mendapatkan pendidikan yang pertama. Pembetukan karakter bukanlah hal yang mudah tetapi membutuhkan usaha dan energi serta komitmen dan ketekunan. Selanjutnya Isnaini juga menyatakan bahwa : Pentingnya pendidikan karakter ini adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat untuk membangun keberadaban bangsa. Kearifan itu segera muncul, pada saat seseorang dapat membuka dirinya untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakkan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. Pendidikan karakter yang membangun keberadaban bangsa Indonesia bukanlah sekedar wacana tetapi harus ada realitas implementasinya. Pendidikan karakter bukan hanya sekedar kata-kata tetapi berupa tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihakan yang cerdas untuk pembentukan moral bangsa yang beradab.

Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik kepada peserta didik untuk membentuk kepribadian peserta didik yang mengajarkan dan membentuk moral, etika, dan rasa berbudaya yang baik serta berakhlak mulia yang menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik dan buruk serta mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan seharihari dengan cara melakukan pendidikan, pengajaran, bimbingan dan pelatihan. Hakikat pendidikan karakter adalah proses bimbingan peserta didik agar terjadi perubahan perilaku, perubahan sikap dan perubahan budaya yang pada kahirnya mewujudkan komunitas yang beradab.

Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak anak masih kecil dan melalui proses yang disesuaikan dalam tahapan perkembangan anak. Hal ini menunjukan bahwa dalam pembentukan karakter anak dibutuhkan kesabaran dan ketekunan para pendidiknya yang harus didukung dengan keseimbangan antara pendidikan orang tua di rumah dengan pendidikan di sekolah. Karena kebanyakan dari orang tua senantiasa menyerahkan sepenuhnya pada proses pendidikan di sekolah serta menuntut lebih cepat adanya perubahan pada diri anak yang lebih baik tanpa menghiraukan proses yang harus dilalui secara bertahap. Menurut Lickona (dalam Ajat Sudrajat), ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan, yaitu cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya; cara untuk meningkatkan prestasi akademik; sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain; persiapan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam; berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moralsosial, seperti ketidak sopanan, ketidak jujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah; persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja; dan pembelajaran nilai-nilai budaya yang merupakan bagian dari kerja peradaban.

Melihat hal di atas dapat diketahui bahwa begitu pentingnya melaksanakan pendidikan karakter agar peserta didik memiliki kepribadian yang baik serta dapat meningkatkan prestasinya dan memiliki karakter yang baik yang dapat dijadikan sebagai persiapan menyongsong masa depan baik dalam dunia kerja maupun dalam kesehariannya dalam bermasyarakat.

Salah satu alternatif pendidikan karakter dapat dikembangkan dari nilai-nilai agama Islam. Bagi umat Islam, pendidikan karakter yang relevan adalah pendidikan karakter Islam, artinya pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter yang kuat, dimana karakter yang kuat dalam hal ini adalah karakter yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam, secara teoritik sebenarnya telah ada sejak Islam diturunkan di dunia seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak (karakter) manusia. Ajaran Islam sendiri mengandung sistematika ajaran yang tidak hanya menekankan pada aspek keimanan, ibadah dan muamalah saja, tetapi juga pada akhlak. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut :  لقَدۡ كَانَ لكُمۡ فِِ رسُولِ ٱلَّلَِّ أسۡوةٌ حَسَنةٌٌ۬ لمَن كَانَ ي رۡجُوْا ٱلَّلََّ وَٱلۡيَ وۡمَ ٱلۡۡخِرَ وَذكَرَ ٱلَّلََّ  كًَ اٌ۬ا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak megingat Allah”. (QS Al-Ahzab [33]:

21). 

Berdasarkan pengertian ayat di atas dapat diketahui bahwa Rasulullah  SAW. diutus untuk menyempurnakan dan memperbaiki akhlak umat manusia, sekaligus sebagai contoh teladan yang baik. Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah dikenal sebagai pendidik yang telah berhasil dan sukses besar dalam melahirkan generasi yang memiliki keunggulan dalam bidang moral, sikap kepribadian, intelektual dan sosial. Dengan kata lain Rasulullah SAW. berhasil merubah akhlak atau karakter jahiliyah menjadi akhlak yang Islami, yaitu itulah generasi sahabat. Generasi inilah yang selanjutnya disebut sebagai pelopor yang telah membuka jalan bagi generasi berikutnya dalam mengembangkan dan meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Pendidikan karakter menurut pandangan Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik kepada peserta didik untuk membentuk kepribadian peserta didik yang mengajarkan dan membentuk moral, etika, dan rasa berbudaya yang baik serta berakhlak mulia yang menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik dan buruk serta mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan seharihari dengan cara melakukan pendidikan, pengajaran, bimbingan dan pelatihan yang berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunah. Pendidikan karakter Islami termasuk dalam bagian pendidikan karakter, tetapi penambahan nilai Islami menjadi ciri khas yang ingin ditonjolkan dalam pendidikan karakter tersebut. Yuliharti menjelaskan bahwa, karakter Islami adalah prilaku, sifat, tabiat, akhlak yang dilandasi oleh nilainilai Islam yang bersumber dari al-Quran dan Hadis Nabi SAW. Karakter Islami ini intinya adalah akhlaq al-karimah. Akhlaq al-karimah adalah suatu sifat, tabiat dan prilaku yang menunjukan adanya hubungan baik dengan Allah (Khaliq) dan sesama makhluk yang didasari oleh nilai-nilai Islam. Di antara contoh akhlaq alkarimah, yang berhubungan dengan Allah, adalah Iman dan cinta kepada Allah, taat, patuh, tawakkal, syukur, ridha, ikhlas, tobat dan cinta damai.[2]

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa karakter Islami merupakan akhlaq al-karimah yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam yang bersumber dari alQuran dan Hadis Nabi SAW. Yuliharti mengatakan bahwa, Pembentukan karakter Islami merupakan upaya yang terencana dan sistematis untuk menjadikan seseorang mengenal, peduli dan menginternalisasikan nilai-nilai Islam sehingga seseorang tersebut berprilaku sebagai insan kamil.[3]Melihat penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan karakter Islami adalah usaha sadar terencana dan sistematis yang dilakukan pendidik kepada peserta didik agar menjadi seseorang yang mengenal, peduli dan dapat mengaplikasikan nilai-nilai Islam sehingga berprilaku sebagai insan kamil. Menurut Marzuki pendidikan karakter Islam adalah upaya sadar yang dilakukan untuk merubah suatu tindakan atau perbuatan, perangai, tingkah laku dan tabiat yang berasaskan pada nilai-nilai Islam, sehingga pendidikan karakter Islam merupakan bentuk pendidikan dengan menanamkan sifat-sifat keislaman sehingga dapat membentuk tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan aturan Islam.[4] 

Berdasarkan hal di atas  pendidikan karakter Islam adalah suatu upaya untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik  sehingga peserta didik  melakukan tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan aturan Islam.   Menurut Yulihartati prinsip pendidikan atau pembentukan karakter Islami, adalah menjadikan Allah SWT sebagai tujuan, memperhatikan perkembangan akal/rasional, memperhatikan perkembangan kecerdasan emosional, serta dilakukan melalui keteladan dan pembiasaan.7 

Menurut E. Mulyasa (dalam Supiana dan  Rahmat Sugiharto. 2017:105) Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter, peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa tujuan diadakannya pendidikan karakter, baik di sekolah, madrasah maupun rumah adalah dalam rangka menciptakan manusia Indonesia yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia serta memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan kehidupan ini. Menurut Said Hamid Hasan, tujuan pendidikan karakter Islam adalah mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.[5]

Berdasarkan hal di atas dapat dipahami bahwa pendidikan karakter Islam berperan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik dan dapat mengembangkan atau melatih kebiasaan dan perilaku terpuji peserta didik, serta menanamkan jiwa kepemimpinan bagi peserta didik.

Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain. Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Itulah sebabnya pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di sekolah dasar. Bukan berarti pada jenjang pendidikan lainnya tidak mendapat perhatian tetapi porsinya saja yang berbeda.[6]

Berdasarkan hal di atas dapat diketahui bahwa lembaga pendidikan sekolah dasar memiliki peran penting dalam penanaman pendidikan karakter peserta didik, karena sekolah dasar sebagai salah satu jenjang pendidikan formal dasar memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan serta nilai dan moral kepribadian pada peserta didik. Peserta didik pada usia sekolah dasar sedang mengalami pertumbuhan baik intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, sehingga apabila pendidik salah dalam penanganannya maka peserta didik yang dihasilkan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Untuk itu, pola pembinaan yang tepat dalam mendampingi anak harus menjadi perhatian serius dari berbagai elemen baik pendidik, orang tua, dan lingkungan sekitar. 

Di sekolah-sekolah berbasis agama, khususnya sekolah dasar Islam, upaya pembentukan karakter ini diintegrasikan melalui berbagai program keagamaan, salah satunya adalah Program Bina Pribadi Islam (BPI). Program BPI merupakan salah satu inisiatif pendidikan yang dikembangkan dengan tujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia, disiplin, dan memiliki kecerdasan spiritual berdasarkan ajaran Islam. Dengan kata lain, program ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Program BPI di tingkat sekolah dasar dirancang sebagai salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dalam beribadah kepada siswa. Program ini tidak hanya menekankan pada pelaksanaan ibadah seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menekankan pada pembentukan karakter islami dalam kehidupan sehari-hari siswa. 

SD Islam Terpadu Bina Insani adalah salah satu Lembaga pendidikan formal yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Sekolah ini mengusung konsep pendidikan yang mengintegrasikan kurikulum pendidikan agama Islam dengan kurikulum pendidikan umum. Konsep ini sejalan dengan tujuan BPI yang juga mengupayakan integrasi nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek kehidupan siswa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dalam konteks Sekolah Islam Terpadu, BPI sering menjadi bagian dari strategi untuk mencapai tujuan pendidikan yang holistik, di mana siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter Islami yang kuat.

SD Islam Terpadu Bina Insani  menyelenggarakan pendidikan karakter Islam bagi siswa melalui Program Bina Pribadi Islam (BPI). Sesuai dengan wawancara yang penulis lakukan dengan Kepala Sekolah SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang, Bapak Trinaldi pada Senin, 10 Juni  2024, mengungkapkan:[7]

Pendidikan karakter Islam dilakukan di SD Islam Terpadu Bina Insani  SemarangDalam hal ini, sekolah menuangkannya dalam kurikulum salah satu mata pelajaran, yaitu program Bina Pribadi Islam (BPI). Pada mata pelajaran tersebut, peserta didik diajarkan dan dibimbing untuk melakukan berbagai aktivitas keagamaan, seperti membiasakan peserta didik untuk selalu sholat di awal waktu, sholat dhuha setiap pagi, membaca Al-Qur‟an bersama setiap pagi, mengajak peserta didik untuk melakukan puasa-puasa sunnah dan berbuka puasa bersama, mengajarkan peserta didik agar bertutur kata yang baik dan memiliki sopan dan santun, serta melatih peserta didik untuk menjadi pengahafal Al-Qur‟an. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan dan menanamkan kedisiplinan peserta didik dalam beribadah. 

Pemantauan kedisiplinan pelaksanaan ibadah tidak hanya dilakukan oleh pihak sekolah, namun juga dilakukan oleh orang tua melalui Buku Monitoring Bina Pribadi Islam, dimana di dalamnya mencakup catatan amalan harian dan catatan adab dan akhlak siswa. Pada buku ini, terdapat lembaran monitoring kegiatan yang diisi oleh peserta didik, lembaran untuk penilaian orang tua di rumah, dan penilaian guru di sekolah. Diharapkan dengan adanya buku ini, sikap disiplin dan bertanggung jawab dengan ibadah keseharian bisa ditumbuhkan dari dalam diri siswa. Selain itu, proses pencatatan dan evaluasi diri dalam beribadah juga membantu peserta didik untuk menjadi disiplin dan mandiri secara spiritual. Mereka belajar untuk tidak hanya mengandalkan pengawasan orang lain, tetapi juga mengambil inisiatif untuk mengatur dan mengoptimalkan ibadah mereka sendiri. 

Program BPI merupakan program unggulan bagi Sekolah Islam Terpadu yang tergabung dalam Jarigan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) dan tidak terdapat pada sekolah Islam lainnya. Berdasarkan pengalaman dari awal tahun berdirinya, program ini berhasil menanamkan sikap kedisiplinan beribadah bagi siswa di sekolah ini. Output dari program BPI ini telah menghasilkan berbagai kegiatan yang selalu dilaksanakan dari tahun ke tahun, seperti Tahfidz Camp, Wisuda Tahfidz, Mabit Siswa, dan Buka Bersama di Sekolah. Selain itu, berbagai prestasi siswa di bidang keagamaan yang diperoleh sekolah ini juga merupakan hasil dari pembinaan program BPI, diantaranya Juara Lomba Tahfiz tingkat Kabupaten Pasaman dan Provinsi Sumatera Barat, Juara Cerdas Cermat Quran tingkat Kabupaten Pasaman dan Provinsi Sumatera Barat, dan sebagainya.

Namun, pelaksanaan program BPI tidaklah mudah. Tantangan pelaksanaan program ini tidak hanya datang dari pihak peserta didik dan orang tua, namun juga pihak sekolah. Tantangan yang muncul dari pihak peserta didik dan orang tua adalah kurangnya kesadaran dan partisipasi orang tua dalam pelaksanaan program ini. Alasan yang biasa muncul ketika rapat wali murid adalah adanya kesibukan orang tua dalam pekerjaan sehingga waktu mereka terbatas untuk memantau dan memberikan dukungan terhadap kegiatan ibadah anak-anak mereka di luar jam sekolah. Selain itu, tidak semua orang tua memahami materi ibadah yang diajarkan kepada anak-anak mereka sehingga orang tua tidak aktif dalam memantau amalan ibadah anak-anak mereka. Hal ini bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk memberikan bimbingan atau dukungan tambahan di rumah.

Kemudian, tantangan yang muncul dari pihak sekolah diantaranya pemenuhan logistik di SD Islam Terpadu Bina Insani . Hal ini karena pelaksanaan BPI membutuhkan sumber daya seperti tempat, waktu, dan fasilitas yang memadai untuk kegiatan pembelajaran agama. Selain itu, pemenuhan tenaga pengajar yang memadai dan terlatih juga menjadi tantangan tersendiri bagi pihak sekolah karena sulitnya menemukan tenaga pengajar yang mampu menyampaikan materi yang relevan dan memahami kebutuhan peserta didik dari berbagai latar belakang.

Setiap sekolah memiliki karakter permasalahan yang berbeda yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program ini dalam menanamkan kedisiplinan beribadah. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan guna mengetahui sejauh mana pelaksanaan Program BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani  dapat menanamkan kedisiplinan beribadah siswa. Merujuk pada berbagai hal di atas, peneliti tertarik membuat sebuah penelitian di SD Islam Terpadu Bina Insani dengan judul: “Pelaksanaan Program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam Menanamkan Kedisiplinan

Beribadah Siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang”.                                                                                                              

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian yang akan diteliti di SD Islam Terpadu Bina Insani adalah Bagaimana Pelaksanaan program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

C. Rumusan Masalah

Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini terarah maka diperlukan rumusan masalah yaitu :

  1. Bagaimana perencanaan program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang?
  2. Bagaimana pelaksanaan program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang?
  3. Bagaimana evaluasi program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang?

D. Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah

  1. Mendeskripsikan dan menganalisis perencanaan program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang
  2. Mendeskripsikan dan menganalisisdi SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang
  3. Mendeskripsikan dan menganalisis evaluasi program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

E. Manfaat Penelitian

 Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya,

  1. Bagi peneliti
    1. Pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini dapat menyumbangkan pengetahuan baru tentang pelaksanaan program BPI dalam meningkatkan kedisiplinan beribadah siswa. Termasuk pemahaman tentang faktor-faktor yang mendukung atau menghambat pelaksanaan program ini.
    1. Konstribusi terhadap literatur akademik. Hasil penelitian dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau seminar akademik, sehingga memberikan kontribusi terhadap literatur tentang pendidikan agama dan pengembangan karakter siswa.
    1. Rekomendasi kebijakan. Temuan penelitian dapat memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan di tingkat sekolah, daerah, atau nasional dalam meningkatkan kualitas program BPI atau program serupa.
  2. Bagi sekolah
    1. Peningkatan efektivitas program. Melalui penelitian ini, sekolah dapat mengevaluasi keberhasilan dan tantangan dalam pelaksanaan program BPI. Ini membantu mereka untuk melakukan penyesuaian dan perbaikan yang dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas program dalam menanamkan kedisiplinan beribadah.
    1. Pengembangan kualitas pendidikan agama. Temuan penelitian dapat digunakan sebagai pedoman untuk meningkatkan kurikulum dan metode pengajaran dalam pendidikan agama di sekolah. Hal ini berkontribusi pada pengembangan komprehensif karakter dan moral siswa.
    1. Meningkatkan kolaborasi dengan orang tua. Hasil penelitian dapat memotivasi sekolah untuk lebih aktif melibatkan orang tua dalam mendukung dan memantau praktik beribadah siswa di luar lingkungan sekolah.
  3. Bagi pembaca atau publik
    1. Pengetahuan yang diperoleh. Pembaca dari hasil penelitian ini dapat mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang pelaksanaan program BPI dalam meningkatkan kedisiplinan beribadah siswa.
    1. Referensi untuk praktik terbaik. Hasil penelitian dapat menjadi referensi bagi sekolah, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam membangun atau mengevaluasi program serupa untuk meningkatkan kedisiplinan beribadah siswa.
    1. Peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan agama dalam membentuk karakter dan moralitas generasi muda.

Dengan demikian, penelitian tentang pelaksanaan program Bina Pribadi Islam (BPI) tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi sekolah dan siswa, tetapi juga berpotensi untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan agama di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Konseptual

1. Program Bina Pribadi Islam (BPI)

Bina Pribadi Islam adalah program yang dirancang oleh yayasan Islam terpadu diseluruh Indonesia. Bina Pribadi Islam ini  merupakan program pendalaman pendidikan Islam ditingkat sekolah dasar Islam terpadu   hingga   sekolah   menengah   yang   berada   dibawah   naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia dalam rangka menguatkan pelaksanaan pembinaan peserta didik dalam membentuk peserta didik yang barakhlak & berkakter islami.[8]   

Program Bina Pribadi Islam juga merupakan program unggulan yang ada di SD Islam Terpadu Bina Insani  SemarangProgram ini masuk ke dalam kurikulum di SD Islam Terpadu Bina Insani dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Kegiatan ini berfokus pada program pembinaan   kepribadian   Islam   melalui   kegiatan   pembiasaan   yang mengacu pada pendalaman pendidikan agama Islam.[9]

Ruang lingkup Kegiatan Bina Pribadi Islam meliputi,

  • Pembinaan berkala dengan menggunakan sarana-sarana tarbiyah sesuai dengan panduan dakwah sekolah
  • Penumbuhan remaja pelajar pendukung dakwah. 
  • Penumbuhan kapasitas kepribadian remaja pelajar muslim.

Landasan konsepsional bina pribadi Islam adalah ayat al-Quran:

“Hendaklah  kamu  menjadi orang-orang  rabbani,  karena  kamu  selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali Imran: 79).

“Sebagaimana (Kami   telah    menyempurnakan    nikmat   Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan  kepadamu  Al-Kitab  dan  Al-Hikmah  (As  Sunnah),  serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (Al Baqarah:151).

Landasan Konstitusional Bina Pribadi Islam, meliputi:

  • Tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3. Tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
  • Tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah
    • Menumbuhkembangkan keimanan melalui pemberian keteladanan, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengamalan peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang memiliki kesadaran beragama atau religiusitas sesuai dengan perkembangan psikologis peserta didik.
    • Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragamadan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan social serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

Landasan Operasional Bina Pribadi Islam, meliputi:

  • Anggaran Dasar JSIT Indonesia, Bab III Visi, Misi, dan Tujuan Pasal 8 tentang visi yakni Menjadi pusat penggerak dan pemberdaya Sekola Islam Terpadu di Indonesia menuju sekolah efektif dan bermutu.
  • Arah kebijakan hasil Munas IV JSIT Indonesia, 27-30 Juli 2017 di

Lombok yakni komponen Pemberdayaan dan Penjaminan Mutu, poin

B.5, yaitu mewujudkan peningkatan partisipasi Bina Pribadi Islam bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik di sekolah.

Karakteristik kurikulum Bina Pribadi Islam

  1. Syumuliyah (menyeluruh), mencakup berbagai aspek ajaran Islam, dan berbagai bidang studi yang berguna bagi kehidupan, baik syar‟I maupun umum.
  2. Takamul (sinergis), tarabuth (saling mengikat) dan tasalsul (saling terkait) antara tema yang satu dengan yang lain dan antara ilmu satu dengan ilmu lainnya serta antara bagian satu dengan bagian lainnya.
  3. Wasathiyah (moderat) dalam menyuguhkan pemahaman Islam, tidak terjebak kepada ifrath (berlebihan, ekstrem kanan) atau tafrith (kurang, ekstrem kiri).
  4. Paduan       antara ashalah            (orisinalitas)       dan      mu‟asharah

(kontemporer).

  • Mahalliyah (lokal), iqlimiyah (regional, kawasan), dan „alamiyah (internasional) dengan tidak menjadikan pertimbangan lokal atau regional bertabrakan dengan pertimbangan internasional, begitu juga sebaliknya.
  • Murunah (fleksibel) dalam cara menyuguhkan, disesuaikan dengan tingkat perbedaan personal, keragaman lokal, regional, wilayah dan daerah serta perubahan zaman.
  • Tadarruj (gradual) dan mempertimbangkan urutan logis suatu beban (dari umum ke khusus, dari mudah ke sulit, dari lebih penting kepada yang penting, dari yang disepakati kepada yang diperselisihkan).
  • Waqi‟iyah (realistis) yang mempertimbangkan keadaan dan perubahan.
  • Mustaqbaliyah (futuristik), memperhitungkan/memprediksi masa depan. 
  • Tawazun (seimbang) yang memperhatikan pertumbuhan akal, fisik dan spiritual.
  • Wudhuh (jelas) dalam      menyuguhkan      gagasan.  
  • Sederhana dalam arti mempergunakan bahasa yang mudah dan sederhana sedapat mungkin.[10]

2. Karakter Islam


BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang akan penulis lakukan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif kualitatif, yaitu suatu cara penelitian yang berusaha mengungkapkan fenomena dengan cara mengumpulkan data yang ada di lapangan dan menggambarkannya sesuai dengan apa adanya melalui wawancara. Arikunto mengatakan bahwa,[11] penelitian deskriptif adalah “penelitian yang dimaksudkan untuk menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau peristiwa yang terjadi. 

Sugiyono  juga mengatakan bahwa Penelitian kualitatif adalah Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.[12]

Jadi dapat dipahami bahwa penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dan apa adanya, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci dengan teknik pengumpulan datanya dilakukan secara triangulasi. Sedangkan analisis datanya bersifat induktif dan hasilnya lebih menekankan makna sebuah kejadian atau peristiwa.

Satori dan Komariah menyatakan :[13] Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada qualiti atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang atau jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori. Jangan sampai sesuatu yang berharga tersebut berlaku bersama waktu tanpa meninggalkan manfaat. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial dan tindakan.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada qualiti dari sifat barang atau jasa berupa kejadian, fenomena atau gejala sosial yang dapat dijadikan pelajaran berharga untuk pengembangan konsep teori. Selanjutnya Hanafi, 2015 : 180, menjelaskan bahwa:

Penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang mencari kebenaran melalui cara-cara yang alami, natural. Pendekatan kualitatif melihat masalah sebagai hal yang kompleks, holistik, terfokus kepada semua faktor yang terlibat dalam latar yang alami, dengan metode alami untuk mendapatkan makna semantik di balik fakta. Tujuannya adalah untuk mencari makna semantik dari fakta dengan cara memahami, mendeskripsikan fakta yang ada, menafsirkan dan menjelaskan fakta berdasarkan kajian teoritik dan membangun teori secara nomotetik.[14]

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang menggambarkan dan mencari makna secara mendalam tentang fenomena-fenomena yang terjadi berdasarkan fakta-fakta yang ada yang diutamakan adalah pandangan atau perspektif dan penghayatan sipemilik realitas atau yang disebut dengan emik. Peneliti akan menggunakan penelitian deskriptif kulitatif dalam penelitian ini, karena peneliti bermaksud menggambarkan tentang pelaksanaan program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

B. Tempat dan Waktu Penelitian

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Islam Terpadu Bina Insani dengan maksud untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program Bina Pribadi Islam dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di sekolah tersebut. Peneliti mengambil lokasi ini dengan alasan SD Islam Terpadu Bina Insani adalah satu-satunya sekolah dasar Islam Terpadu di Kabupaten Pasaman yang menerapkan program Bina Pribadi Islam (BPI) dalam menanamkan karakter Islam kepada peserta didiknya.

  • Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang direncanakan dalam peneltian ini adalah bulan Sejarah – Agustus 2024.

C. Metode dan Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yaitu pertama observasi, kedua  pengumpulkan data dan ketiga analisis data dan penafsiran data. Pada tahap observasi peneliti mendatangi SD Islam Terpadu Bina Insani untuk mencari informasi atau data yang dibutuhkan yang berkaitan dengan fokus permasalahan penelitian.

Selanjutnya peneliti masuk pada tahap pengumpulan data. Setelah itu, tahapan  berikutnya adalah pengecekan data pada subjek, informan atau dokumen untuk membuktikan validitas data yang diperoleh. Pada tahap ini juga dilakukan pengecekan data yang diberikan informan dan diadakan perbaikan dari segi bahasa maupun sistematikanya, agar dalam pelaporan penelitian tidak diragukan keabsahannya. 

D. Subjek dan Sumber Peneliti

Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti, atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian atau sasaran peneliti .[15] Adapun subjek penelitian ini adalah program Bina Pribadi Islam (BPI). 

Sumber data merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Sumber data adalah tempat atau sumber informasi untuk menggali informasi sebanyak mungkin, sesuai dengan fokus penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Menurut Sugiyono  mengatakan bahwa,[16] “sumber data primer merupakan sumber data pokok, sedangkan sumber data sekunder merupakan data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data”.Artinya, sumber data primer adalah sumber data pokok yang harus ada, sedangkan sumber data sekunder adalah data tambahan untuk mendukung sumber data pokok yang ditemukan oleh peneliti melalui informan atau sumber lain yang paham atau mengerti. Berpijak dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa sumber data untuk menggali informasi pelaksanaan program BPI dalam menanamkan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani  adalah data primer. Sumber data primer merupakan sumber data pokok, yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, koordinator BPI, pembina BPI, dan wali murid SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

E. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan strategi untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program  Bina Pribadi Islam di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang Menurut Suharsimi Arikunto teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, di mana cara tersebut menunjukan pada suatu yang abstrak, tidak dapat di wujudkan dalam benda yang kasat mata, tetapi dapat dipertontonkan penggunaannya.[17]Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumen.

  1. Observasi

Metode Observasi adalah suatu metode yang digunakan dalam pengamatan dan pencatatan data secara sistematis terhadap fenomena fenomena yang diselidiki. Observasi atau disebut pula dengan pengamatan meliputi penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap.[18]

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data dari lapangan. Peneliti melakukan observasi langsung kelapangan dengan cara  melihat secara lansung dengan mengunjungi SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

  • Wawancara

Menurut Hadeli wawancara adalah suatu cara mengumpulkan data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada sumber data dan sumber data juga memberikan jawaban secara lisan. Wawancara biasanya dilakukan kepada sejumlah responden yang jumlahnya relatif terbatas dan memungkinkan bagi peneliti untuk mengadakan kontak langsung secara berulang-ulang sesuai dengan keperluan.[19]

Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, koodinator BPI, pembina BPI, dan wali murid SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

  • Dokumentasi

Metode dokumentasi sebagai metode pengumpulan data memiliki posisi yang sangat penting dalam penelitian kualitatif.[20] Dalam pelaksanaannya, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, dokumen, tata tertib, peraturan-peraturan, dan sebagainya. Dalam dokumentasi ini ada beberapa data yang dibutuhkan yaitu: a. Sejarah singkat sekolah

  • Visi dan misi
    • Struktur organisasi sekolah
    • Sarana dan prasarana sekolah
    • Buku panduan BPI
    • Buku monitoring BPI siswa

F. Prosedur Analisis Data

Data yang telah didapatkan dalam teknik pengumpulan data, kemudian di analisis, yang biasanya disebut dengan analisis data. Sugiyono mengatakan bahwa60 analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa analisis data merupakan proses mencari dan menyusun yang dilakukan secara sistematis berkaitan dengan data yang yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi yaitu dengan cara mengorganisasikan data, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan membuat kesimpulan.

Langkah-langkah analisis data yang akan peneliti gunakan adalah sebagai berikut:

  1. Reduksi data, adalah proses dalam rangka memilih, menyederhanakan, memfokuskan, dan mengubah data kasar ke dalam catatan lapangan. Istilah reduksi data dalam penelitian kualitatif disejajarkan maknanya dengan pengelolaan data. Dengan merangkum, memilih hal-hal pokok, disusun secara sistematis sehingga data dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti dalam mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan.
  2. Penyajian data, adalah suatu cara untuk merangkum data, yang memudahkan peneliti untuk menyimpulkan hasil penelitian. Selain itu,  juga dapat melihat gambaran keseluruhan data atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. 
  3. Menarik kesimpulan dan verifikasi dari pengumpulan data. Pekerjaan mengumpulkan data bagi penelitian kualiatifharus langsung diikuti dengan pekerjaan menulis, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi, dan menyajikan data, serta menarik kesimpulan dengan cara membandingkan sebagai analisis data kualitatif.

Dalam penelitian kualitatifumumnya lebih melihat proses dari pada produk dari obyek penelitiannya. Selain itu nantinya kesimpulan dari data kualitatif tidak berupa angka-angka tetapi disajikan dalam bentuk kata-kata yang pengolahannya mulai dari mengedit sampai menyajikan dalam keadaan ringkas dikerjakan di lapangan. 

G. Pemeriksaan Keabsahan data

Data yang telah dikumpulkan melalui metode wawancara, observasi dan dokumentasi belum dinilai sah dan belum dapat dilanjutkan penelitiannya jika belum di validasi dan direliabilitasi. Berdasarkan hal tersebut, validitas dan reliabilitas data sangat penting dalam penelitian. 

Validitas Data adalah proses yang membuat data dinyatakan sah dalam perspektif penelitian. Menurut Hanafi hal ini dilakukan dengan cara: 

  1. Uji kredibilitas, yaitu informan yang dipilih adalah informan yang representatif sehingga datanya dapat dipercaya. 
  2. Confirmability, yaitu data dari informan yang telah dinarasikan dideskripsikan, dikonfirmasikan kepada informan untuk di cek kebenarannya.
  3. Transferbility, pemindahan sumber data dan data dari seorang informan kepada yang lain dapat berjalan dengan benar dan dapat dipercaya.
  4. Dependability, yaitu keteguhan atau kekuatan dan keyakinan bahwa data yang dikumpulkan peneliti itu objektif dan benar, tidak palsu atau dibuatbuat.[21] 

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa dalam penelitian kualitatif pada validitas data terdiri dari uji kredibilitas, confirmabitility, transferbility, dan dependability. Dengan demikian, data yang telah dikumpulkan dapat disahkan dan diakui kebenarannya dalam penelitian tersebut. Adapun proses validasi yang akan peneliti lakukan adalah dengan confirmability, dimana apabila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar confirmability. Hal ini hampir sama dengan reliabilitas menggunakan chek member, yang akan peneliti paparkan di bawah ini.

Selain validitas, reliabilitas data juga hal yang sangat penting dalam menilai keabsahan data. Suatu penelitian yang reliabel adalah apabila orang lain dapat mengulangi atau mereplikasi proses penelitian tersebut. Adapun proses dalam reliabilitas data menurut Hanafi terdiri dari beberapa cara yaitu:

  1. Triangulasi, yaitu menguji data dari tiga sisi, dari informan, dari teori atau pakar untuk dikonfirmasi dan diverivikasi ke data. 
    1. Berlama-lama di lapangan, perpanjangan pengamatan untuk mendapatkan data dan fakta yang luas dan mendalam. 
    1. Peningkatan ketekunan. 
    1. Diskusi dengan teman sejawat. 
    1. Analisis kasus negatif. 
    1. Chek member.[22] 

Berdasarkan hal di atas dapat dipahami bahwa dengan adanya reliabilitas data dalam suatu penelitian maka dapat dimanfaatkan kembali kepada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang reliabel.

Adapun proses reliabilitas yang akan peneliti lakukan adalah dengan chek member, dimana chek member adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada responden. Tujuannya agar informasi yang diperoleh dan yang akan digunakan dalam penulisan sesuai dengan apa yang diberikan responden. Chek member yang peneliti lakukan yaitu: 

  1. Setelah penulis mendapatkan data pasca wawancara dengan responden, penulis menganalisis dan menginterpretasikan ke dalam temuan penelitian. 
  2. Kemudian temuan penelitian tersebut penulis diskusikan kepada responden untuk melihat kebenarannya dan untuk dapat disepakati. 
  3. Jika responden menemukan kesalahan data yang penulis lakukan, penulis segera memperbaiki dan kembali mendiskusikannya kepada responden. 
  4. Temuan penelitian yang telah penulis analisis dan interpretasikan disepakati, maka penulis merampungkannya ke dalam pembahasan penelitian.


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.              Temuan Umum

A. Hasil Penelitian (Deskripsi Data)

1. Sejarah Singkat SDIT BINA INSANI SEMARANG

Latar belakang peserta didik berada pada tingkat ekonomi menengah ke atas dengan sarana prasarana yang cukup memadai dalam mendukung proses pembelajaran baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Karena sekolah berbasis sekolah keagamaan dalam hal ini agama islam, maka 100 % latar belakang agama peserta didik adalah beragama Islam. Secara sosial budaya, peserta didik memiliki latar belakang orang tua yang berbeda budaya yang disebabkan dari sebagian orang tua merupakan pendatang dari luar daerah. Selain itu, minat bakat peserta didik juga yang sangat beragam. Berdasarkan perbedaan latar belakang tersebut maka memperkuat alasan Profil Pelajar Pancasila mampu diimplemetasikan secara utuh di SD Islam Terpadu Bina Insani dengan tagline ”Sekolahku Sahabat Al Qur’an”. Maka dalam penyusunan Kurikulum Operasional, karakteristik peserta didik dengan segala latar belakangnya menjadi satu pertimbangan utama agar menjadi pendidikan yang berkeadilan dalan kebhinekaan. 

Tujuan akhir capaian pembelajaran yang terintegrasi dengan Profil Pelajar Pancasila secara umum adalah untuk membentuk karakter peserta didik untuk menumbuhkan iman, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong dan kreatif dengan mengakomodir keragaman tersebut. 

2. Profil SDIT BINA INSANI SEMARANG

SD Islam Terpadu Bina Insani berada di lokasi yang strategis beralamat di Jl. Tanjungsari No. 200 Kelurahan Sumurboto kecamatan Banyumanik, Kota Semarang , akses mudah dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, dekat dengan fasilitas umum antara lain: perumahan, masjid, supermaket, SPBU, RSND, apartemen,bank, kantor pos, akses tol,  perguruan tinggi ( UNDIP, POLINES, POLTEKKES), BBPMP, kantor arsip perpustakaan, dan fasilitas umum lainnya. Lingkungan satuan pendidikan juga di dukung oleh  kemampuan ekonomi orangtua menengah keatas serta latar belakang pendidikan orangtua yang cukup baik dimana sebagian besar berpendidikan S1/S2.

SD Islam Terpadu Bina Insani sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan melalui pembelajaran AlQur’an dengan metode Ilman Wa Ruhan, Tahfidzul Qur’an, hadist pilihan dan do’a harian serta menerapkan budaya 5 S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan santun). Disamping itu menerapkan pembelajaran berbasis IT, kontekstual, berdiferensiasi dengan metode pembelajaran STEAM dan penguatan karakter dengan Budaya Sekolah Bina Insani (BSBI), memiliki pojok baca untuk mengembangkan literasi dan bentuk  pembelajaran sangat bervariatif serta berpusat pada anak. 

Berdasarkan Peraturan Walikota Semarang No.68 tahun 2020 tentang Sekolah Ramah Anak, untuk itu  SD Islam Terpadu Bina Insani juga sebagai pelaksana Sekolah Ramah Anak yang berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab serta berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif, SD Islam Terpadu Bina Insani juga melaksanakan layanan Holistik Integratif secara utuh meliputi layanan pendidikan, layanan kesehatan dan gizi, layanan pengasuhan, perlindungan dan kesejahteraan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai kelompok umur.

Untuk mendukung pelaksanaan program kegiatan dan melaksanakan program pendidikan karakter, SD Islam Terpadu Bina Insani melakukan program kemitraan. Dimana program kemitraan ini bertujuan untuk menjalin kerjasama dan keselarasan program pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tri sentra pendidikan dalam membangun ekosistem pendidikan yang kondusif untuk menumbuh kembangkan karakter dan budaya berprestasi peserta didik.

Beberapa  mitra yang mendukung pelaksanaan program kegiatan pembelajaran secara umum  antara lain, Kantor POS, Damkar, Antar jemput Sekolah, SPBU, UNNES, UNDIP, Kantor Kecamatan Banyumanik, Bandara, dsb

Sedangkan mitra untuk mendukung pelaksanaan program KBM , antara lain :

  1. Layanan pendidikan bermitra dengan Korsatpen Kecamatan Banyumanik dan Dinas Pendidikan Kota Semarang
  2. Layanan kesehatan dan gizi bermitra dengan Puskesmas, Doker Gigi, Dokter Umum, Psikolog dan POLTEKKES
  3. Layanan Pengasuhan bermitra dengan Orangtua, Komite Sekolah, Psikolog
  4. Layanan perlindungan bermitra dengan RSND, RS Banyumanik
  5.   Layanan Kesejahteraan bermitra dengan kantor Kecamatan dan Disdukcapil 

Sumber pendanaan operasional sekolah berasal dari swadaya masyarakat (wali murid) serta bantuan pemerintah yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS).. Begitu juga dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, peran serta dari pihak orangtua, masyarakat sekitar serta  kemitraan dengan lembaga-lembaga terkait sangat dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran.

Satuan Pendidikan memiliki lahan dengan status hak milik dengan luas 2780 m² dan luas bangunan ± 2398 m² . Bangunan sekolah terdiri dari 3 gedung. Terdiri dari 2 dan 3 lantai. Gedung A ada 2 lantai, dibuat khusus untuk kantor KS, waka, guru, tata usaha, dapur, gudang, kamar mandi, ruang tamu, dan ruang laboratorium komputer.  Gedung B ada 18 ruang kelas, ruang koperasi, ruang UKS, Gudang, ruang media, ruang sholat, kamar mandi, lapangan. Gedung C ada ruang perpustakaan, 6 ruang kelas. 

Berikut ini merupakan rapor pendidikan SD IT Bina Insani tahun 2025 :

Gambar 2.1.  Rapor pendidikan SD IT Bina Insani

Dibandingkan tahun 2024, Iklim keamanan satuan pendidikan SD Islam Terpadu Bina Insani mengalami peningkatan paling tinggi di antara indikator lain. Dari seluruh capaian tahun ini, Kemampuan numerasi menjadi indikator dengan pencapaian terbaik. Meski demikian, Kualitas pembelajaran adalah indikator dengan pencapaian terendah, yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya Metode pembelajaran. Contoh upaya untuk membenahi hal ini adalah melalui Praktik pembelajaran interaktif yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran..

Pada tahun 2020, SD IT Bina Insani mencoba mengembangkan program kelas bilingual, sekolah berupaya untuk membangun branding sebagai sekolah dengan keunggulan bahasa, kemudian lahirlah Bilingual Qur’an Class (BQC) yang menjadi keunggulan SD IT Bina Insani

3. VISI MISI

  1. Visi SD IT Bina Insani

SD Islam Terpadu Bina Insani, mengusung visi:

“Terwujudnya peserta didik unggulan berkarakter Islami menuju khoiru ummah serta berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.”

Adapun indikator ketercapaian dari visi sesuai dengan variabelnya antara lain:. 

  1. Pembelajar sepanjang hayat, membentuk generasi yang memiliki motivasi untuk selalu belajar dan mengembangkan diri sesuai dengan bakatnya. 
  2. Inovatif, kemampuan seluruh warga sekolah memaknai keadaan yang dinamis dan selalu berubah dengan berbagai tantangan dan hambatan menjadi sebuah celah dalam mengembangkan diri untuk menemukan solusi yang tepat, bermanfaat dan sesuai dengan keadaan masa kini dan mempersiapkan masa depan.
  3. Berkarakter Islami, mengimplementasikan ajaran agamanya dalam ibadah dan karakter yang terpuji dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Memberikan peran serta membangun dan menyebarkan kebaikan di lingkungannya sesuai denga kapasitas dan kemampuannya untuk kemajuan diri, lingkungan, bangsa dan negara. 
  5. Memberikan prestasi, terbaik untuk  bangsa dan negara sebagai hasil akhir dalam sebuah proses, prestasi merupakan tolak ukur sebuah proses. Prestasi tak hanya berkisar pada kemampuan kognitif dalam ajang prestatif saja namun lebih pada keberhasilan menemukan kemampuan diri, mengembangkan talenta dan kecakapan hidup yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.
  1. Misi SD IT Bina Insani

Dalam upaya mengimplementasikan visi sekolah, SD Islam Terpadu Bina Insani menjabarkan misi sekolah sebagai berikut:

  1. Menyelenggarakan lembaga pendidikan islam terpadu tingkat dasar yang mengintegralkan antara iman, ilmu, dan amal.
  2. Menyelenggarakan lembaga pendidikan islam terpadu tingkat dasar yang  mendorong dan mewujudkan civitas menjadi pribadi yang berintegrasi tinggi,  empati, berwawasan luas dan mampu berkreasi serta berinovasi. 
  3. Menerapkan metode pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi dan  bakat setiap anak dalam lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan Islami serta mandiri, bernalar kritis dan kreatif yang memfasilitasi keragaman minat dan bakat peserta didik.
  4. Membangun lingkungan sekolah yang membentuk peserta didik memiliki  akhlak mulia melalui rutinitas kegiatan keagamaan dan menerapkan ajaran  agamanya, melaui cara pembiasaan, pendampingan, pengawasan, dan keteladanan di sekolah, dan lingkungannya.
  5. Membangun lingkungan sekolah yang bertoleransi dalam kebhinekaan global,  dengan membiasakan berkomunikasi dalam bahasa inggris, mencintai budaya  lokal dan menjunjung nilai gotong royong. 
  6. Mengembangkan program sekolah yang membentuk ide dan gagasan cepat tanggap terhadap perubahan yang terjadi untuk merancang inovasi. 

7.          Mengembangkan dan memfasilitasi peningkatan prestasi peserta didik sesuai minat dan   bakatnya melalui proses pembiasaan, keteladanan serta pendampingan dan kerja sama dengan orang tua.

4. KURIKULUM

Penyusunan kurikulum di satuan pendidikan SD Islam Terpadu Bina Insani disesuaikan kekhasan, kondisi dan pontensi daerah dengan menyelaraskan kondisi satuan pendidikan dan karakteristik peserta didik dalam satuan pendidikan. Dalam pengembangannya, kurikulum sekolah akan mengacu pada capaian pembelajaran yang telah disusun oleh pusat dan diterjemahkan dalam alur tujuan pembelajaran yang dikonkretkan dalam proses pembelajaran. 

Penyusunan dan pengembangan kurikulum di satuan pendidikan SD Islam Terpadu Bina Insani berfokus kepada pemenuhan kebutuhan peserta didik dengan mengembangkan kompetensi dalam perubahan kehidupan abad ke-21 yang memuat ciri khas dan potensi lokal lingkungan sekolah. SD Islam Terpadu Bina Insani yang berdomisili pada daerah yang strategis di lingkungan perumahan yang sedang tumbuh dan merupakan wilayah penyangga Kota Semarang., pengembangan ekonomi dan lokasi yang mudah ditempuh dengan sarana transportasi yang ada. Lingkungan sekolah pun berada di tengah lingkungan perumahan pasangan muda yang sedang tumbuh, dengan wawasan pendidikan yang lebih baik sehingga mempunyai pemahaman tentang sekolah yang berkualitas dan bersedia untuk terlibat dalam pendampingan pendidikan anak-anak. Sekolah juga berada dekat dengan sarana kesehatan, olahraga dan keagamaan sehingga menjadi salah satu kekuatan pendukung dalam proses pembelajaran. 

A. Landasan Yuridis

Setiap lembaga pendidikan di Indonesia wajib memiliki kurikulum atau biasa disebut sebagai Dokumen 1. Kurikulum ini digunakan sebagai acuan dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Selain hal tersebut tersebut kurikulum juga diperlukan bagi sekolah untuk dijadikan sebagai pedoman bagi para pendidik dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Terkait dengan hal tersebut di atas, SD Islam Terpadu Bina Insani dalam rangka penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD) melaksanakan penyusunan dan Pengembangan Kurikulum Operasional SD Islam Terpadu Bina Insani.

Landasan yuridis dalam penyusunan kurikulum operasional di satuan pendidikan SD Islam Terpadu Bina Insani, mengacu pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no 20 tahun 2003, sebagai arah tujuan pendidikan sekolah. Dan juga mengacu pada SK.No 028/H/KU/2021dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan.

Berikut ini adalah landasan hukum penyusunan Kurikulum Operasional SD Islam Terpadu Bina Insani :

  1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Permendikdasmen nomor 10 tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan
  3. Permendikdasmen nomor 11 tahun 2025 tentang Beban Kerja Guru
  4. Permendikdasmen nomor 12 tahun 2025 tentang Standar Isi
  5. Peraturan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Nomor: B/4/400.3.12/2025  Tahun 2025 Tentang Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Kota Semarang tahun ajaran 2025/2026 
  6. Permendikdasmen nomor 13 tahun 2025 tentang Perubahan Kurikulum
  7. Keputusan Rapat Penyusunan Kurikulum Sekolah tanggal 8 Juli 2025.

Berdasarkan landasan tersebut, SD Islam Terpadu Bina Insani dengan kekuatan, kemampuan dan keinginan untuk selalu ingin berkembang, berharap akan menjawab tantangan pendidikan dalam memfasilitasi suatu suasana belajar penuh aktivitas, berkarya dan menyenangkan untuk  membangun  kehidupan  masa  kini  dan  masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan membentuk peserta didik sebagai agen Profil Pelajar Pancasila yang memiliki kemampuan intelektual,  kemampuan  berkomunikasi,  sikap  sosial,  kepedulian, dan  berpartisipasi  untuk  membangun  kehidupan  masyarakat  dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism).

B. Landasan Psikologis

Landasan psikologis penyusunan kurikulum di SD Islam Terpadu Bina Insani berangkat dari pemahaman bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kebutuhan yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangan psikologisnya. Kurikulum dikembangkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Teori perkembangan anak seperti Piaget dan Vygotsky menegaskan pentingnya pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif anak dan interaksi sosial dalam pembelajaran. Selain itu, penerapan pendekatan yang mengakomodasi perbedaan minat, bakat, dan latar belakang budaya peserta didik mampu memicu motivasi belajar dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan efektif. Dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, kurikulum ini diharapkan dapat menumbuhkan iman, takwa, karakter moral, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang sesuai dengan kebutuhan abad ke-21.

C. Landasan Filosofis

Landasan filosofis sebagai dasar penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan di SD Islam Terpadu Bina Insani adalah dengan mempertimbangkan budaya bangsa sebagai akar penopang pendidikan yang akan tumbuh membentuk pendidikan berkelanjutan. Generasi penerus tetaplah menjadi generasi penjaga kelestarian budaya namun peka terhadap perkembangan zaman.  Pengalaman belajar menjadi poin utama dalam menguasai kompetensi.  

D. Landasan Pedagogis

Secara pedagogis, penyusunan kurikulum ini mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning) yang menekankan aktifitas belajar yang bermakna, kontekstual, dan holistik. Kurikulum dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang memadukan aspek akademik dan nilai-nilai keagamaan Islam sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pembentukan karakter. Pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) dan diferensiasi pembelajaran digunakan untuk mengakomodasi keberagaman gaya belajar dan potensi peserta didik. Selain itu, penerapan budaya sekolah yang mendukung nilai-nilai keagamaan dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) juga memperkuat aspek pembentukan karakter dan budaya positif di lingkungan sekolah. Kurikulum ini diharapkan dapat membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara sosial dan spiritual.

E. Landasan Sosiologis

Landasan sosiologis kurikulum SD Islam Terpadu Bina Insani didasarkan pada kondisi sosial budaya masyarakat sekitar yang sangat heterogen dengan latar belakang sosial ekonomi menengah ke atas dan budaya yang beragam, serta lingkungan keluarga yang mendukung pendidikan anak. Keberadaan sekolah di daerah strategis yang berkembang dan dekat dengan berbagai fasilitas umum, termasuk sarana keagamaan, memberikan peluang besar bagi integrasi nilai-nilai agama, sosial, dan budaya lokal dalam pembelajaran. Kurikulum dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat dan tuntutan perubahan sosial abad ke-21 dengan menumbuhkan sikap kebhinekaan, gotong royong, dan kesadaran sosial. Melalui kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (tri sentra pendidikan), diharapkan tercipta ekosistem pendidikan yang kondusif, inklusif, dan berkeadilan sehingga peserta didik mampu berkontribusi positif dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

5. STRUKTUR PENGURUS

SD Islam Terpadu Bina Insani dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah berijazah S2 magister pendidikan. Jumlah seluruh guru dan pegawai enam puluh (62) terdiri dari 24 guru kelas, 4 guru pendamping kelas 1, 6 guru mata pelajaran (PAI, PJOK, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris), 18 guru qur’an, 3 security, 3 tata usaha, 1 pustakawan, 1 petugas UKS dan 1 petugas koperasi sekolah. Jumlah guru yang memiliki sertifikat pendidik ada 11. 1 guru sudah berijazah S2. 2 guru lainnya sedang menyelesaikan studi S2. Guru kelas dan guru maple berijazah S1. Guru pendamping berijazah  S1 (2 orang) dan SMA (2 orang). Guru quran bersyahadah, berijazah S1 (6 orang), D3 ( 1 orang) SMA (8 orang), Security berijazah SMA, tata usaha berijazah D3, pegawai perpus berijazah S1, pegawai UKS berijazah S1, dan pegawai koperasi berijazah D3. 

Dalam melaksanakan tugasnya, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan bekerja berdasarkan struktur organisasi yang telah disusun yaitu sebagai berikut :

Gambar 2.2  Bagan Struktur Organisasi

6. DATA GURU

REKAP GURU 2025/2026 (Januari 2026)
NoJabatanLPJumlah
1Kepala Sekolah101
2Guru Kelas22224
3Guru Qur’an71623
4Guru Mapel426
5Guru Pendamping044
6Satpam404
7TU033
8Perpustakaan011
9Koperasi011
10UKS011
11OB606
Total74

Tabel 2.1  Daftar Nama Pendidik dan Tenaga Kependidikan

NONama JabatanSertifikasiMasa Kerja
1HFSKepala SekolahSudah15 Tahun,5 Bulan
2AUGuru Kelas 1belum5 Tahun,10 Bulan
3LPGuru Kelas 1belum12 Tahun,0 Bulan
4NHGuru Kelas 1belum2 Tahun,11 Bulan
5NSGuru Kelas 1Sudah17 Tahun,9 Bulan
6NSGuru Kelas 2belum7 Tahun,6 Bulan
7RAGuru kelas 2belum0 Tahun,11 Bulan
8TAGuru Kelas 2belum1 Tahun,6 Bulan
9YOGuru Kelas 2belum2 Tahun,4 Bulan
10ASGuru Kelas 3Sudah16 Tahun,9 Bulan
11DAGuru Kelas 3Sudah12 Tahun,6 Bulan
12FAGuru Kelas 3belum2 Tahun,6 Bulan
13WAGuru kelas 3belum6 bulan
14DJGuru Kelas 4Sudah14 Tahun,6 Bulan
15HFGuru Kelas 4Sudah15 Tahun,9 Bulan
16LSGuru Kelas 4belum6 bulan
17OCGuru Kelas 4belum2 Tahun,6 Bulan
18ENGuru Kelas 5belum1 Tahun,6 Bulan
19ITGuru Kelas 5Sudah14 Tahun,6 Bulan
20WGuru Kelas 5belum5 Tahun,6 Bulan
21CRGuru Kelas 6belum5 Tahun,6 Bulan
22JIGuru Kelas 6belum2 Tahun,6 Bulan
23KIGuru Kelas 6belum7 Tahun,11 Bulan
24LYGuru Kelas 6Sudah5 Tahun,6 Bulan
25TPGuru Kelas 6Sudah13 Tahun,0 Bulan
26HGuru PAISudah13 Tahun,6 Bulan
27PPGuru PAIbelum12 Tahun,6 Bulan
28DRGuru Pendamping5 bulan
29FAGuru Pendamping10 bulan
30LNGuru Pendamping5 bulan
31SSGuru Pendamping2 Tahun,10 Bulan
32DPGuru PJOKbelum8 Tahun,6 Bulan
33DPGuru PJOKSudah14 Tahun,6 Bulan
34FIGuru Bahasa Arabbelum5 bulan
35KNGuru Bahasa Inggrisbelum5 Tahun,6 Bulan
36AKGuru Quran8 Tahun,6 Bulan
37AGuru Quran11 Tahun,5 Bulan
38CUGuru Quran15 Tahun,2 Bulan
39DFGuru Quran3 Tahun,6 Bulan
40EDGuru Quran2 Tahun,4 Bulan
41FYGuru Quran5 bulan
42HSGuru Quran2 Tahun,6 Bulan
43ISGuru Quran3 Tahun,4 Bulan
44IGuru Quran4 Tahun,5 Bulan
45IGuru Quran8 Tahun,6 Bulan
46KKGuru Quran16 Tahun,6 Bulan
47NGuru Quran13 Tahun,6 Bulan
48NAGuru Quran12 Tahun,0 Bulan
49NDGuru Quran1 Tahun,0 Bulan
50SAGuru Quran2 Tahun,6 Bulan
51SGuru Quran12 Tahun,6 Bulan
52UAGuru Quran6 bulan
53UYGuru Quran6 bulan
54WWPetugas Kantin 13 Tahun,6 Bulan
55MAPetugas TU 9 Tahun,4 Bulan
56NSPetugas TU 3 Tahun,6 Bulan
57OMPetugas TU 2 Tahun,4 Bulan
58AAPetugas UKS 5 bulan
59NPPustakawan 3 Tahun,6 Bulan
60AASatpam 2 Tahun,4 Bulan
61AASatpam 6 Tahun,7 Bulan
62SRSatpam 7 Tahun,6 Bulan
63ANsatpam  bulan

Tata usaha sekolah adalah bagian dari unit pelaksana teknis penyelenggaraan sistem administrasi dan informasi pendidikan di sekolah. Informasi yang tata usaha sekolah kelola penting sebagai basis pelayanan dan bahan pengambilan keputusan sekolah. Semakin lengkap dan akurat data terhimpun maka pemberian pelayanan makin mudah dan pengembilan keputusan makin tepat.

SD IT Bina Insani memiliki 3 petugas tata usaha yang bertugas di Tata Usaha sesuai tupoksi masing-masing.   Ketiga petugas tata usaha tersebut di bawah koordinasi waka SDM.  

Tabel 2.2  Data Petugas TU di SD IT Bina Insani Kota Semarang

NoPetugas TUTupoksi
1Masita AdrianiBendahara BOS, mengatur kas keluar
2Nunik SusiyantiPenerimaan pembayaran/kas masuk
3Isna MusyarofahPembuatan surat menyurat, DAPODIK

7. DATA JUMLAH SISWA

REKAP SISWA 2025/2026 (Januari 2026)
NOKELAS WALI KELAS LPJUMLAH
11A AL KHAZINI BQC Trisna Amalia Putri, S.Pd. 121224106
21B AL KHAWARIZMI BQC Ahmad Ubedi, S.Pt., S.Pd.  121224
31C AL KINDI Nur Syamsiah Tri Handayani, S.K.M., S.Pd. 151429
41D AL KHAYYAM Lina Pamungkas Sari, SE 141529
   5353106 
52A IBNU HAYYAN BQC Muniroh, S.Pd. 111324105
62B IBNU KATSIR BQC Elsa Noviana, S.Pd. 111324
72C IBNU KHALDUN Fatma Auliya Salsabila, S.Pd. 151429
82D IBNU HAITSAM Neneng Siti Nurkhasanah, S.Si. 151328
   5253105 
93A IBNU NAFIS BQC Dydaesturi Jalarno, S.Pd. Gr 16824107
103B IBNU FIRNAS BQC Losi Sabbilla, S.Pd. 16824
113C IBNU SHUJA Nur Siswiyati, S.Pd. 161430
123D IBNU SINA Yanit Oktafaningrum, S.Pd. 151429
   6344107 
134A AL JAHIZ Kamilatun Nisa, S.Pd. 91019102
144B AL JURJANI Laksmina Yussi, S.Pd 131427
154C AL JAUHARI Desvika Restu Setyaningsih, S.Pd 141327
164D AL JAZARI Damar Asih Setiyowati, S.Pd. 161329
   5250102 
175A AL FARISI  Frida Ayu Erawati, S.Pd. 131629118
185B AL FARGHANI  Ocktavia Cristyari S. S.K.M. 131730
195C Al FAZARI  Relita Aprisa, M.Si 131730
205D AL FARABI  Winaryanti, S.Pd. 131629
   5266118 
216A AL BIRUNI Pa Catur Rahayu, S.Si, S.Pd., M.Si. 27027112
226B AL BATTANI Pa Kiki Indriasari, S.Pd. 26026
236C AL BAGHDADI Indri Tjunduk N F, S.Si, S.Pd.SD 02929
246D AL BAITAR Jenia Indah Fitriani, S.Pd. 03030
   5359112 
TOTAL SISWA 650

8. SARANA DAN PRASARANA

Sarana Gedung

  Sebagai penunjang kegiatan pembelajaran diperluan gedung dan tata ruang yang memadai supaya proses kegiatan belajar mengajar dan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah berjalan lebih efektif dengan sarana yang telah disediakan pihak sekolah. SD IT Bina Insani Kota Semarang memiliki beberapa ruang yang cukup untuk melakukan proses belajar mengajar. Saran pergedungan dan tata ruang di SD IT Bina Insani Kota Semarang dapat digolongkan sesuai dengan jenis dan fungsinya yakni sebagai berikut:

Tabel 2.3. Sarana Gedung dan Tata Ruang di SD IT Bina Insani 

Kota Semarang

NoSarana/PrasaranaKondisi
BRRRSDRBJML
Ruang
1Ruang Teori/ Kelas24
2Ruang Tata Usaha1
3Ruang Kepala Sekolah1
4WC20
5Perpustakaan1
6Gudang2
7Koperasi1
8Ruang Guru2
9Ruang UKS1
10Lapangan1
11Ruang Konseling1
12Lab Komputer1
13Lab IPA1
14Mushola1
15Aula1

Ket      :

B         : Bagus

RR       : Rusak Ringan

RSD    : Rusak Sedang

RB       : Rusak Berat

Fasilitas Perkantoran

    Agar memperlancar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tentunya diperlukan beberapa fasilitas untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Maka dari itu SD IT Bina Insani Kota Semarang menyediakan fasilitas perkantoran sebagai berikut: 

Tabel 2.4. Fasilitas Perkantoran

NoSarana/PrasaranaKondisi
BRRRSDRBJML
1Komputer16
2Proyektor20
3Printer5
4Pengeras suara24

Gambar 2.3  Gedung SD IT Bina Insani tampak samping

Gambar 2.4  Gedung SD IT Bina Insani tampak depan

Konteks Lingkungan

Sekolah berlokasi di lingkungan [perkotaan/pedesaan/kawasan industri/kawasan konservasi], yang memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan ekologis tersendiri. Lingkungan sekitar sekolah memberikan peluang besar bagi pengembangan pembelajaran berbasis proyek, khususnya pada tema-tema lingkungan hidup, kewirausahaan, dan sosial kemasyarakatan.

Sebagai respon terhadap isu-isu lingkungan global dan lokal, kurikulum mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup melalui pendekatan tematik dan interdisipliner. Siswa diajak untuk mengembangkan sikap peduli lingkungan melalui kegiatan nyata seperti daur ulang, penghijauan, dan konservasi energi

B.        Temuan Khusus

1. Perencanaan Program Bina Pribadi Islam (BPI) di SD Islam Terpadu Bina Insani a. Tujuan Program BPI

Berdasarkan wawancara peneliti dengan Kepala Sekolah SD Islam Terpadu Bina Insani  LubukmSikaping, tujuan program BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani adalah untuk mengembangkan individu yang memiliki pemahaman, penghayatan, dan pengamalan yang baik terhadap ajaran Islam. Secara lebih spesifik, tujuan yang ingin diperoleh meliputi:

  1. Penguatan Aqidah (Keimanan)

Tujuannya untuk menanamkan keyakinan yang kokoh terhadap Allah SWT dan rukun iman lainnya. Tujuan ini penting sebagai fondasi utama dalam kehidupan beragama. Dengan memahami dan meyakini rukun iman, siswa akan memiliki dasar yang kuat dalam menjalankan ajaran Islam dan mampu menghindarkan diri dari syirik untuk menjaga kemurnian tauhidnya.

  • Peningkatan Ibadah

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah harian siswa dan mengajarkan tata cara ibadah yang benar sesuai dengan tuntunan syariah. Meningkatkan kualitas ibadah berarti mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang lebih khusyuk dan benar sesuai syariah. Ini akan membawa dampak positif dalam kehidupan spiritual dan keseharian siswa.

  • Pengembangan Akhlak

Tujuannya yaitu membentuk karakter yang mulia dan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, keadilan, dan kasih sayang. Akhlak yang baik adalah cerminan dari iman yang benar. Dengan membentuk akhlak yang mulia, program ini berupaya mencetak individu yang tidak hanya taat dalam ibadah, tetapi juga memiliki moral yang tinggi dalam interaksi sosialnya.

  • Pemahaman Al-Qur’an dan Hadits

Tujuannya yaitu meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, serta mengajarkan hadits-hadits penting dan aplikasinya dalam kehidupan. Al-Qur’an dan Hadis adalah sumber utama hukum Islam. Memahami kedua sumber ini adalah kunci untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Islam. Program ini berperan penting dalam menanamkan kemampuan membaca dan mengaplikasikan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pengetahuan Fiqh

Tujuannya untuk membekali peserta dengan pengetahuan fiqih untuk menjalankan ibadah dan muamalah dengan benar dan mengajarkan hukum-hukum dasar dalam Islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Fiqih mengatur tata cara pelaksanaan ibadah dan muamalah (interaksi sosial) sesuai dengan ajaran Islam. Dengan pengetahuan fiqih, peserta dapat menjalankan aktivitas keagamaannya secara benar dan sesuai syariah.

  • Pengembangan Spiritual dan Emosional

Tujuannya untuk membantu peserta mengembangkan kedewasaan spiritual dan emosional serta mendorong peserta untuk selalu bersikap tawakal dan sabar dalam menghadapi cobaan. Kedewasaan spiritual dan emosional penting untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek ritualistik, tetapi juga pada pengembangan sikap mental yang sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian.

  • Peningkatan Pengetahuan Sejarah Islam

Tujuannya menyediakan wawasan tentang sejarah dan perkembangan Islam, termasuk kisah para nabi dan sahabat, serta mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa bersejarah untuk diterapkan dalam kehidupan. Memahami sejarah Islam, termasuk kisah para nabi dan sahabat, membantu peserta mengidentifikasi teladan yang bisa diikuti.

Pengetahuan ini juga penting untuk memahami konteks perkembangan ajaran Islam dan mengambil pelajaran dari masa lalu.

  • Pembentukan Sikap Sosial yang Islami

Tujuannya untuk mendorong peserta untuk aktif dalam kegiatan sosial dan berkontribusi positif dalam Masyarakat serta mengajarkan pentingnya ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan pentingnya hubungan sosial yang baik. Program ini mendorong peserta untuk berkontribusi dalam masyarakat dengan semangat ukhuwah Islamiyah, yang dapat memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.

  • Peningkatan Keterampilan Hidup

Tujuannya untuk mengembangkan keterampilan praktis yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, seperti manajemen waktu, komunikasi efektif, dan pemecahan masalah, serta mengajarkan pentingnya etos kerja dan tanggung jawab. Selain aspek spiritual, program ini juga memperhatikan pengembangan keterampilan praktis yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti manajemen waktu dan komunikasi. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam membentuk individu yang tidak hanya religius, tetapi juga produktif dan bertanggung jawab.

Dengan tujuan-tujuan tersebut, program BPI diharapkan dapat mencetak individu yang tidak hanya memahami ajaran Islam, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat[23].

  • Proses Perencanaan Program BPI

Proses perencanaan program BPI meurut pengakuan Kepala Sekolah dan Koordinator BPI SD Islam Terpadu Bina Insani dilakukan melalui beberapa tahapan untuk memastikan program tersebut efektif dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Berikut adalah tahapan dalam perencanaan program BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani  Lubuk

Sikaping:

  1. Identifikasi tujuan dan sasaran.

Tahap ini sangat penting karena tujuan dan sasaran adalah dasar dari semua aktivitas berikutnya. Tanpa tujuan yang jelas, program BPI menjadi tidak fokus dan tidak efektif. Identifikasi yang baik juga membantu memastikan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan siswa. Secara umum, tujuan program BPI adalah untuk mengembangkan individu yang memiliki pemahaman, penghayatan, dan pengamalan yang baik terhadap ajaran Islam. Adapun sasaran program BPI adalah siswa SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

  • Perencanaan program, meliputi rancangan kurikulum dan metode pengajaran

Tahap ini melibatkan pembuatan rancangan kurikulum dan metode pengajaran. Dalam konteks BPI, kurikulum harus mencakup aspek spiritual, moral, sosial, dan intelektual dalam Islam. Metode pengajaran harus disesuaikan dengan berbagai gaya belajar dan umur siswa. Perencanaan yang matang memastikan bahwa kurikulum tidak hanya mencakup pengetahuan teoritis tetapi juga praktek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

  • Penyiapan materi dan modul sesuai kurikulum

Materi dan modul adalah elemen kunci dalam implementasi kurikulum. Materi harus sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik dan modul harus didesain agar menarik dan interaktif. Tahapan ini sangat penting untuk memastikan bahwa materi yang disiapkan tidak hanya mencakup aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotor, serta sesuai dengan nilai-nilai Islam.

  • Pemilihan pengajar, meliputi pemilihan pengajar yang memiliki kompetensi dan pemahaman yang baik tentang Islam dan pelatihan bagi pengajar.

Pemilihan pengajar yang kompeten sangat penting untuk keberhasilan program. Pengajar harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam serta keterampilan mengajar yang baik. Selain itu, pelatihan bagi pengajar juga krusial untuk menyamakan standar pengajaran dan memastikan mereka mampu menyampaikan materi dengan efektif dan menarik. Kualifikasi dan kemampuan pengajar dapat menentukan kualitas program secara keseluruhan.

  • Pelaksanaan program, meliputi menjalankan program sesuai rencana yang telah disusun.

Tahap ini adalah implementasi dari semua rencana yang telah dibuat. Pelaksanaan harus sesuai dengan jadwal dan metode yang telah disusun untuk memastikan ketercapaian tujuan program. Pemantauan selama pelaksanaan juga diperlukan untuk memastikan bahwa proses berjalan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan.

  • Evaluasi dan monitoring secara berkala

Evaluasi dan monitoring adalah langkah penting untuk menilai keberhasilan program dan mendeteksi area yang memerlukan perbaikan. Evaluasi harus dilakukan secara objektif dan berkala, baik melalui penilaian peserta didik, feedback dari pengajar, maupun observasi langsung. Monitoring berkesinambungan juga membantu dalam menyesuaikan program dengan kebutuhan yang mungkin berubah seiring waktu.

  • Perbaikan dan penyempurnaan.

Tahap ini memungkinkan program untuk berkembang dan meningkat seiring waktu. Berdasarkan hasil evaluasi, program dapat disesuaikan dan disempurnakan untuk lebih memenuhi kebutuhan siswa dan mencapai tujuan yang lebih efektif. Tahapan ini adalah bagian dari siklus perbaikan berkelanjutan yang sangat penting dalam manajemen program.

  Keseluruhan tahapan ini merupakan proses yang holistik dan berkesinambungan. Setiap langkah saling berhubungan dan penting untuk mencapai kesuksesan program BPI. Implementasi yang efektif dari setiap tahapan akan menghasilkan program yang relevan, berkualitas, dan berdampak positif terhadap siswa dan lingkungan.

  • Pihak yang Terlibat dalam program BPI

Program BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani melibatkan berbagai pihak untuk memastikan pelaksanaannya berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan. Berikut adalah beberapa pihak yang terlibat dalam program tersebut berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada Kepala Sekolah dan Koordinator BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang:

1. Tim Pengelola Program

  • Koordinator BPI 

Koordinator BPI memegang tanggung jawab utama atas keseluruhan program, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, meliputi pengembangan kurikulum, penjadwalan kegiatan, koordinasi dengan para guru, serta pemantauan keberhasilan program. Koordinator juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tujuan program tercapai dan berjalan sesuai dengan rencana.

  • Staf Administrasi

Staf administrasi berperan mengurus berbagai aspek administratif dan logistik program BPI, meliputi mengelola dokumen, catatan peserta, kebutuhan operasional, dan memastikan segala hal yang berkaitan dengan administrasi berjalan lancar. Selain itu, staf administrasi juga mendukung pengadaan material yang dibutuhkan selama program berlangsung dan membantu dalam penyediaan fasilitas untuk kegiatan.

  • Guru Pembimbing BPI

Guru pembimbing berasal dari para pendidik yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang Islam. Perannya bertanggung jawab dalam memberikan bimbingan, mengajar, dan mendampingi siswa selama program berlangsung. Guru pembimbing juga berperan dalam membentuk karakter dan akhlak siswaa, serta memastikan bahwa materi yang diajarkan dipahami dan dapat diimplementasikan oleh siswa.

  • Peserta Program BPI

Peserta program yaitu siswa SD Islam Terpadu Bina Insani  SemarangSiswa adalah pusat dari kegiatan program, dimana tujuan utama program adalah untuk meningkatkan keimanan, ibadah, akhlak, dan pengetahuan agama mereka. Peserta diharapkan aktif mengikuti kegiatan, mempelajari materi yang disampaikan, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Orang tua dan keluarga

Orang tua dan keluarga berperan untuk mendukung dan memotivasi peserta untuk mengikuti program dengan aktif, serta membantu mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan dalam program di lingkungan keluarga sehingga pembelajaran yang diperoleh dari program dapat berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap pihak yang terlibat dalam program BPI memiliki peran yang spesifik dan penting untuk mencapai tujuan program. Koordinator dan staf administrasi memastikan bahwa program berjalan lancar dari sisi operasional, guru pembimbing memberikan bimbingan dan pendidikan, peserta adalah fokus utama program, dan orang tua serta keluarga mendukung implementasi nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi yang baik antara semua pihak ini sangat penting untuk memastikan kesuksesan program BPI.

  • Penentuan Kebutuhan Siswa

Menentukan kebutuhan siswa dalam program BPI adalah langkah penting untuk memastikan program tersebut relevan dan efektif.

Koordinator BPI mengungkapkan beberapa cara untuk menentukan kebutuhan siswa untuk program BPI pada wawancara yang dilakukan peneliti, yaitu:

  1. Observasi, yaitu dengan mengamati perilaku dan partisipasi siswa dalam kegiatan keagamaan dan pembelajaran sehari-hari. Observasi adalah metode langsung yang efektif untuk mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana siswa berinteraksi dengan materi agama dan kegiatan keagamaan. Dengan mencatat kesulitan yang dihadapi siswa, pengamat dapat mengidentifikasi area di mana siswa mungkin membutuhkan bimbingan lebih lanjut. Selain itu, observasi juga memungkinkan identifikasi minat siswa yang dapat digunakan untuk memotivasi dan mengarahkan program sesuai kebutuhan mereka. Namun, observasi memerlukan ketelitian dan konsistensi agar data yang dikumpulkan akurat dan representatif.
  2. Diskusi guru pembimbing BPI dan Koordinator BPI, yaitu untuk mendapatkan wawasan tentang kebutuhan dan perkembangan siswa berdasarkan pengalaman dan pengetahuan guru pembimbing dalam merancang program yang sesuai. Diskusi antara guru pembimbing dan koordinator program sangat penting karena guru memiliki pengalaman langsung dengan siswa dan memahami dinamika kelas. Pengalaman guru dalam mengamati perkembangan siswa sehari-hari memberikan informasi berharga yang mungkin tidak terlihat dalam data formal. Diskusi ini memungkinkan penyesuaian program berdasarkan pengalaman empiris, menjadikan program lebih relevan dan efektif bagi siswa. Keterlibatan aktif dari kedua pihak dalam diskusi ini sangat penting untuk menyelaraskan tujuan program dengan kebutuhan nyata siswa.
  3. Analisis data akademik dan non akademik, yaitu dengan meninjau hasil akademik siswa dalam mata pelajaran agama dan kegiatan keagamaan lainnya. Data akademik memberikan gambaran objektif tentang kinerja siswa dalam mata pelajaran agama, yang merupakan indikator penting dalam menilai pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Selain itu, data non-akademik, seperti partisipasi dalam kegiatan keagamaan, dapat mengungkapkan keterlibatan emosional dan spiritual siswa. Analisis data ini memungkinkan identifikasi tren atau pola yang dapat digunakan untuk merancang program yang lebih fokus pada area yang membutuhkan peningkatan.

Meskipun data akademik bermanfaat, penting untuk menggabungkannya dengan metode lain untuk mendapatkan gambaran yang lebih holistik. 

  • Wawancara dengan orang tua siswa, dilakukan pada saat penerimaan raport siswa di akhir semester. Wawancara dengan orang tua memberikan perspektif dari rumah, yang sangat penting untuk memahami dukungan dan tantangan yang dihadapi siswa di luar sekolah. Orang tua sering kali memiliki wawasan tentang perilaku anak yang mungkin tidak terlihat di sekolah, seperti kebiasaan belajar atau pengaruh lingkungan. Informasi ini dapat digunakan untuk menyesuaikan pendekatan program, memastikan bahwa apa yang diajarkan di sekolah sejalan dengan praktik di rumah. Keterlibatan orang tua juga meningkatkan efektivitas program, karena mereka dapat memperkuat pembelajaran yang didapatkan di sekolah dalam lingkungan keluarga.

e. Materi Utama Program BPI

Program BPI menjadi salah satu mata pelajaran wajib di SD Islam Terpadu Bina Insani  SemarangSelain pembelajaran di kelas, pelaksanaan program ini juga dilakukan dengan kegiatan pembiasaan. Adapun contoh kegiatan dalam pembelajaran adalah menghubungkan materi pelajaran dengan ayat Al-Qur‟an dan sunnah atau dihubungkan dengan nilai-nilai Islam. Kemudian, contoh kegiatan pembiasaan, seperti sholat dhuha, sholat berjama‟ah. kegiatan MABID, dan sebagainya. 

Pelaksanaan program BPI berdasarkan tingkat kelas pada kurikulum Bina Pribadi Islam di SD Islam Terpadu Bina Insani sebagai berikut:

Tabel 4.2 Pelaksanaan Pendidikan Karakter Islam Kelas I

NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
1.Memiliki Akidah yang LurusMengenal dan menghafal rukun iman dan rukun Islam. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam kehidupan.
2.Melakukan Ibadah yang BenarBerlatih     berwudhuk      dengan benar. Berlatih adzan dan iqomah. Belajar membiasakan shalat 5 waktu. Mengenal dan berlatih shalat sunnah rawatib. Berlatih berdzikir kepada Allah. Berlatih     puasa   di         Bulan Ramadhan. Melaksanakan zakat fitrah. Membiasakan berinfak. Terbiasa menyebarkan dan menjawab salam. Berlatih membantu orang yang terkena musibah. Belajar menutup aurat. Berdoa dalam setiap aktivitas. Belajar       amar    ma‟ruf       nahi mungkar. 
3.Berkepribadian Matang, Berakhlak Mulia  1. Mengenal dan berlatih bersikap percaya diri yang berlandaskan kepada nilai kebenaran.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Mampu mengenal, mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sesuai perkembangannya. Mampu menunjukkan sikap inisiatif, mandiri dan pekerja keras dalam kehidupan seharihari. Belajar dan berlatih memperhatikan adab berbicara kepada orang lain. Belajar mendoakan orang yang terkena musibah. Berbakti kepada orang tua dan peduli kepada keluarga. Belajar dan berlatih senyum, salam & sapa (3 S) terhadap orang lain. Menjaga fasilitas umum. Membiasakan sikap hidup ramah lingkungan (go green).
4.Menjadi Pribadi yang Sungguh-Sungguh, Disiplin     dan    Mampu Menahan Nafsunya Berlatih belajar dengan baik. Rajin membaca buku. Membiasakan diri mengunjungi perpustakaan. Belajar mengungkapkan ide/gagasan dan wawasan. Membiasakan hidup rapi dan
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  teratur serta mampu menjaga barang miliknya. Mengenal adap pergaulan lawan jenis dalam islam. Belajar mengendalikan emosi. Belajar berteman dan mengenali lingkungan sekitar.
5.Memiliki Kemampuan Membaca, Menghafal dan Memahami Al Qur‟anBelajar membaca Al Qur‟an dengan baik. Menghafal sebagian Al Qur‟an juz 30 dan ayat pilihan. Membaca terjemah sebagian Al Qur‟an juz 30.
6.  Memiliki          Wawasan yang LuasMenghafal 5 penggalan hadist arba‟in. Mengenal siroh nabawiyah dan nabi yang bergelar ulul azmi. Mengenal Khulafaur Rasyidin. Mengenal ilmuwan muslim. 
7.Memiliki Keterampilan HidupMengenal dan berlatih memilih makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa. Berlatih makan sesuai sunnah. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengena ciri-ciri badan sehat. Mengenal fungsi merawat tubuh dan penampilan. Berlatih diri tidur sesuai sunnah. Mengenal olah raga renang.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI 
  Belajar menyeselaikan tanpa bantuan orang lain. Gemar menabung.tugas

Berdasarkan Tabel 4.2, terlihat bahwa program BPI untuk kelas 1 sekolah dasar dirancang untuk pengenalan dasar ajaran Islam, seperti pengenalan rukun islam dan rukun iman, kalimat thoyibah, berlatih wudhu dengan benar, dan sebagainya. Secara umum, pada kelas 1 sekolah dasar, program ini bertujuan untuk memberikan dasar yang kokoh dalam pengenalan agama dan karakter, dengan pendekatan yang sesuai dengan usia dan kemampuan siswa kelas 1 sekolah dasar. Tabel 4.3

Pelaksanaan Pendidikan Karakter Islam Kelas II

NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
1.Memiliki Akidah yang LurusMengenal dan menghafal rukun iman dan rukun islam. Mengenal             dan      menghafal sebagian Asmaul Husna. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam kehidupan.
2.Melakukan           Ibadah yang BenarBerlatih     berwudhuk      dengan benar. Berlatih adzan dan iqomah. Belajar membiasakan shalat 5 waktu. Mengenal dan berlatih shalat sunnah rawatib.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Berlatih berdzikir kepada Allah. Berlatih     puasa   di         Bulan Ramadhan. Melaksanakan zakat fitrah. Membiasakan berinfak. Terbiasa     menyebarkan   dan menjawab salam. Berlatih membantu orang yang terkena musibah. Belajar menutup aurat. Berdoa dalam setiap aktivitas. Belajar       amar    ma‟ruf       nahi mungkar. 
3.Berkepribadian Matang,        Berakhlak Mulia  Mengenal dan berlatih bersikap percaya diri yang berlandaskan kepada nilai kebenaran. Mampu mengenal, mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sesuai perkembangannya. Mampu menunjukkan sikap inisiatif, mandiri dan pekerja keras dalam kehidupan seharihari. Belajar dan berlatih memperhatikan adab berbicara kepada orang lain. Belajar mendoakan orang yang
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  terkena musibah. Berbakti kepada orang tua dan peduli kepada keluarga. Belajar dan berlatih senyum, salam & sapa (3 S) terhadap orang lain. Menjaga fasilitas umum. Membiasakan sikap hidup ramah lingkungan (go green).
4.Menjadi Pribadi yang Sungguh-Sungguh, Disiplin dan Mampu Menahan Nafsunya Membiasakan diri hadir di sekolah tepat waktu. Berlatih menghargai aturan yang ada. Berlatih belajar dengan baik. Rajin membaca buku. Membiasakan diri mengunjungi perpustakaan. Belajar       mengungkapkan ide/gagasan dan wawasan. Membiasakan hidup rapi dan teratur serta mampu menjaga barang miliknya. Mengenal adap pergaulan lawan jenis dalam islam. Belajar mengendalikan emosi. Belajar berteman dan mengenali lingkungan sekitar.
5.Memiliki Kemampuan Membaca, Menghafal1. Belajar        membaca         Al       Qur‟an dengan baik.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
 dan      Memahami      Al Qur‟anMenghafal sebagian Al Qur‟an juz 30 dan ayat pilihan. Membaca terjemah sebagian Al Qur‟an juz 30.
6.Memiliki         Wawasan yang LuasMenghafal 5 penggalan hadist arba‟in. Mengenal siroh nabawiyah dan nabi yang bergelar ulul azmi. Mengenal Khulafaur Rasyidin. Mengenal ilmuwan muslim. 
7.Memiliki Keterampilan HidupMemahami, mengkonsumsi dan membiasakan diri makan makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa. Membiasakan diri makan sesuai sunnah. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengena ciri-ciri badan sehat. Mengenal fungsi merawat tubuh dan penampilan. Berlatih tidur sesuai sunnah. Mengenal olah raga renang. Belajar       menyeselaikan       tugas tanpa bantuan orang lain. Gemar menabung.

Pada Tabel 4.3 terlihat bahwa kompetensi program BPI untuk kelas 2 sekolah dasar tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 1. Perbedaannya terlihat pada penambahan kompetensi di SKL pertama dan ketujuh. Pada SKL pertama (Memiliki Akidah yang Lurus) kompetensi yang ditambahkan, yaitu mengenal dan menghafal sebagian Asmaul Husna. Pada SKL ketujuh (Memiliki Keterampilan Hidup), kompetensi yang ditambahkan, yaitu memahami, mengkonsumsi dan membiasakan diri makan makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa. Secara keseluruhan, standar kompetensi untuk kelas 2 akan lebih mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam dan aplikasi yang sedikit  lebih kompleks dari ajaran Islam dibandingkan dengan kelas 1, sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan emosional siswa.

Table 4.4 Pelaksanaan Pendidikan Karakter Islam Kelas III

NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
1.Memiliki Akidah yang LurusMenghafal dan memahami rukun iman dan rukun islam. Menghafal             dan       memahami sebagian Asmaul Husna. Belajar membiasakan diri hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada syaitan. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam kehidupan.
2.Melakukan           Ibadah yang BenarMampu berwudhuk dengan benar. Mampu adzan dan iqomah. Belajar membiasakan shalat 5 waktu dengan tertib. Bersemangat         dalam shalat jamaah. Berlatih membiasakan diri shalat sunnah rawatib. Membiasakan        diri       berdzikir
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  kepada Allah. Mampu membaca Al Qur‟an dengan tartil. Melatih dan membiasakan diri puasa di Bulan Ramadhan. Melaksanakan zakat fitrah. Membiasakan berinfak. Terbiasa     menyebarkan   dan menjawab salam. Menjaga diri dari dosa-dosa kecil. Membiasakan diri membantu orang yang terkena musibah. Belajar membiasakan diri menutup aurat. Berdoa dalam setiap aktivitas. Belajar       amar    ma‟ruf       nahi mungkar. 
3.Berkepribadian Matang,        Berakhlak Mulia  Mengenal dan berlatih bersikap percaya diri yang berlandaskan kepada nilai kebenaran. Mampu mengenal, mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sesuai perkembangannya. Mampu menunjukkan sikap inisiatif, mandiri dan pekerja keras dalam kehidupan seharihari.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Berlatih dan menunjukkan rasa malu untuk berbuat kesalahan/dosa. Belajar dan berlatih menepati janjinya kepada orang lain. Belajar dan berlatih memperhatikan adab berbicara kepada orang lain. Belajar mendoakan orang yang terkena musibah. Berbakti kepada orang tua dan peduli kepada keluarga. Belajar dan berlatih senyum, salam & sapa (3 S) terhadap orang lain. Menjaga fasilitas umum. Membiasakan sikap hidup ramah lingkungan (go green).
4.Menjadi Pribadi yang Sungguh-Sungguh, Disiplin dan Mampu Menahan Nafsunya Membiasakan diri hadir di sekolah tepat waktu. Membiasakan diri menghargai aturan yang ada. Berlatih membiasakan diri belajar dengan baik dan memanfaatkan waktu dengan maksimal. Gemar membaca, menulis dan bercerita. Rajin membaca buku. Membiasakan diri mengunjungi
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  perpustakaan. Belajar       mengungkapkan ide/gagasan dan wawasan. Membiasakan hidup rapi dan teratur serta mampu menjaga barang miliknya. Mengenal kebutuhan       hidup (primer, sekunder dan tersier). Mengenal adap pergaulan lawan jenis dalam islam. Belajar mengendalikan emosi. Belajar berteman dan mengenali lingkungan sekitar.
5.Memiliki Kemampuan Membaca, Menghafal dan Memahami Al Qur‟anBelajar membaca Al Qur‟an dengan baik. Menghafal sebagian Al Qur‟an juz 30 dan ayat pilihan. Membaca terjemah sebagian Al Qur‟an juz 30.
6.Memiliki        Wawasan yang LuasMenghafal 10 penggalan hadist arba‟in. Mengenal siroh nabawiyah dan nabi yang bergelar ulul azmi. Mengenal Khulafaur Rasyidin. Mengenal ilmuwan muslim. 
7.Memiliki Keterampilan Hidup1. Memahami, mengkonsumsi dan membiasakan diri makan makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Membiasakan diri makan sesuai sunnah. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengena ciri-ciri badan sehat. Mengenal fungsi merawat tubuh dan penampilan. Membiasakan diri tidur sesuai sunnah. Mengenal olah raga renang. Mengenal gerakan dasar beladiri. Belajar       menyeselaikan       tugas tanpa bantuan orang lain. Mampu mengelola uang saku pekanan dengan baik. Belajar       jual      beli      yang menguntungkan. Gemar menabung. Mengenal dan memahami kepramukaan-SIT sesuai dengan tingkatannya.

Pada Tabel 4.4 terlihat bahwa kompetensi program BPI untuk kelas 3 sudah mulai tampak berbeda dengan kelas 2 sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan emosional siswa kelas 3. Pada siswa kelas 3, terdapat penambahan beberapa kompetensi pada semua SKL yang mengacu pada peningkatan kedalaman materi, kompleksitas praktik ibadah, serta pengembangan pemahaman nilai-nilai Islam. Secara umum, standar kompetensi di kelas 3 bertujuan untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh di kelas 2 dengan penekanan pada aplikasi praktis dan pengembangan karakter yang lebih matang. Tabel 4.5

Pelaksanaan Pendidikan Karakter Islam Kelas IV

NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
1.Memiliki Akidah yang LurusMenghafal, memahami dan mengimani rukun iman dan rukun islam. Menghafal             dan       memahami sebagian Asmaul Husna. Terbiasa hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada syaitan. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam kehidupan. Memahami ikhlas dalam beramal.
2.Melakukan           Ibadah yang BenarMampu berwudhuk dengan benar. Mampu adzan dan iqomah. Terbiasa shalat 5 waktu dengan tertib. Bersemangat         dalam shalat jamaah. Berlatih membiasakan diri shalat sunnah rawatib. Membiasakan diri berdzikir kepada Allah. Mampu membaca Al Qur‟an dengan tartil. Melatih dan membiasakan diri puasa di Bulan Ramadhan.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Melaksanakan zakat fitrah. Membiasakan berinfak. Terbiasa     menyebarkan   dan menjawab salam. Mengenal bacaan Al Matsurat dan wirid ba‟da shalat. Menjaga diri dari dosa-dosa kecil. Membiasakan diri membantu orang yang terkena musibah. Membiasakan diri menutup aurat. Berdoa dalam setiap aktivitas. Belajar       amar    ma‟ruf       nahi mungkar. 
3.Berkepribadian Matang,        Berakhlak Mulia  Mengenal konsep diri dengan benar. Mengenal dan berlatih bersikap percaya diri yang berlandaskan kepada nilai kebenaran. Mampu mengenal, mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sesuai perkembangannya. Mampu menunjukkan sikap inisiatif, mandiri dan pekerja keras dalam kehidupan seharihari. Berlatih dan menunjukkan rasa malu untuk berbuat
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  kesalahan/dosa. Belajar dan berlatih bersikap pemberani dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Belajar dan berlatih menepati janjinya kepada orang lain. Belajar dan berlatih memperhatikan adab berbicara kepada orang lain. Belajar dan berlatih menjenguk dan mendoakan orang yang terkena musibah. Berbakti kepada orang tua dan peduli kepada keluarga. Belajar dan berlatih senyum, salam & sapa (3 S) terhadap orang lain. Menjaga fasilitas umum. Membiasakan sikap hidup ramah lingkungan (go green).
4.Menjadi Pribadi yang Sungguh-Sungguh, Disiplin dan Mampu Menahan Nafsunya Membiasakan diri hadir di sekolah tepat waktu. Membiasakan diri menghargai aturan yang ada. Membiasakan diri belajar dengan baik dan memanfaatkan waktu dengan maksimal. Gemar membaca, menulis dan bercerita.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Rajin membaca buku. Membiasakan diri mengunjungi perpustakaan. Belajar       mengungkapkan ide/gagasan dan wawasan. Membiasakan hidup rapi dan teratur serta mampu menjaga barang miliknya. Mengenal kebutuhan       hidup (primer, sekunder dan tersier). Mengenal adap pergaulan lawan jenis dalam islam. Belajar mengendalikan emosi. Belajar berteman dan mengenali lingkungan sekitar. Mengajak teman dan berbuat kebaikan. 
5.Memiliki Kemampuan Membaca, Menghafal dan Memahami Al Qur‟anBelajar membaca Al Qur‟an dengan baik dengan memperhatikan kaidah ilmu tajwid. Menghafal sebagian Al Qur‟an juz 30 dan ayat pilihan. Khatam Al Qur‟an 1 kali. Membaca terjemah sebagian Al Qur‟an juz 30.
6.Memiliki        Wawasan yang LuasMenghafal 20 penggalan hadist arba‟in. Mengenal siroh nabawiyah dan
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  nabi yang bergelar ulul azmi. Mempelajari 6 shiroh sahabat yang dijamin masuk surga. Mengenal Khulafaur Rasyidin. Mengenal ilmuwan muslim. Mengenal tokoh pejuang muslim Indonesia. 
7.Memiliki Keterampilan HidupMemahami, mengkonsumsi dan membiasakan diri makan makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa. Membiasakan diri makan sesuai sunnah. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengena ciri-ciri badan sehat. Mengenal dasar-dasar medis dan P3K. Mengenal fungsi merawat tubuh dan penampilan. Membiasakan diri tidur sesuai sunnah. Mengenal olah raga renang. Mengenal gerakan dasar beladiri. Belajar       menyeselaikan       tugas tanpa bantuan orang lain. Mampu mengelola uang saku pekanan dengan baik. Belajar       jual      beli      yang menguntungkan.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Gemar menabung. Mengenal produksi dalam negri. Belajar mempresentasikan hasil pembelajaran. Belajar       mengunkapkan ide/gagasan dan wawasan.  Mengenal dan memahami kepramukaan-SIT sesuai dengan tingkatannya.

Pada Tabel 4.5, terlihat bahwa kompetensi yang diharapkan dari siswa kelas 4 lebih kompleks dan mendalam dibandingkan dengan kelas 3. Pada kelas 4, siswa mulai mendalami pemahaman tentang konsep-konsep Islam yang lebih kompleks, seperti tauhid, kenabian, dan ibadah. Selain itu, siswa juga dituntut untuk dapat menerapkan nilai-nilai Islam dalam situasi yang lebih kompleks dan membiasakan siswa berpikir kritis tentang ajaran Islam yang sederhana. 

Tabel 4.6 Pelaksanaan Pendidikan Karakter Islam Kelas V

NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
1.Memiliki Akidah yang LurusMenghafal, memahami dan mengimani rukun iman dan rukun islam. Menghafal             dan       memahami Asmaul Husna. Terbiasa hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  syaitan. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam kehidupan. Memahami dan berlatih ikhlas dalam beramal.
2.Melakukan         Ibadah yang BenarMampu berwudhuk dengan benar. Mampu adzan dan iqomah. Terbiasa shalat 5 waktu dengan tertib. Bersemangat         dalam shalat jamaah. Berlatih membiasakan diri shalat sunnah rawatib. Mengenal dan berlatih shalat Qiyamul Lail. Membiasakan diri berdzikir kepada Allah. Mampu membaca Al Qur‟an dengan tartil. Melatih dan membiasakan diri puasa di Bulan Ramadhan. Mengenal malam I‟tikaf. Melaksanakan zakat fitrah. Membiasakan berinfak. Membiasakan niat dalam ibadah kepada Allah. Terbiasa     menyebarkan   dan menjawab salam. Belajar membiasakan membaca
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Al Matsurat dan wirid ba‟da shalat. Menjaga diri dari dosa-dosa kecil. Membiasakan diri membantu orang yang terkena musibah. Membiasakan diri menutup aurat. Berdoa dalam setiap aktivitas. Belajar       amar    ma‟ruf       nahi mungkar. 
3.Berkepribadian Matang,        Berakhlak Mulia  Mengenal konsep diri dengan benar. Mengenal dan berlatih bersikap percaya diri yang berlandaskan kepada nilai kebenaran. Mampu mengenal, mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sesuai perkembangannya. Mampu menunjukkan sikap inisiatif, mandiri dan pekerja keras dalam kehidupan seharihari. Berlatih dan menunjukkan rasa malu untuk berbuat kesalahan/dosa. Belajar dan berlatih bersikap pemberani dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Belajar dan berlatih menepati janjinya kepada orang lain. Belajar       dan      berlatih       berfikir positif kepada orang lain. Belajar dan berlatih memperhatikan adab berbicara kepada orang lain. Belajar dan berlatih tidak menyebut-nyebut kekurangan orang lain. Belajar dan berlatih menjenguk dan mendoakan orang yang terkena musibah. Berbakti kepada orang tua dan peduli kepada keluarga. Belajar dan berlatih senyum, salam & sapa (3 S) terhadap orang lain. Belajar dan berlatih dalam menerima kritik dan koreksi dari orang lain. Menjaga fasilitas umum. Membiasakan sikap hidup ramah lingkungan (go green).
4.Menjadi Pribadi yang Sungguh-Sungguh, Disiplin dan Mampu Menahan Nafsunya Membiasakan diri hadir di sekolah tepat waktu. Membiasakan diri menghargai aturan yang ada. Membiasakan diri belajar dengan
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  baik dan memanfaatkan waktu dengan maksimal. Gemar membaca, menulis dan bercerita. Rajin membaca buku. Membiasakan diri mengunjungi perpustakaan. Belajar       mengungkapkan ide/gagasan dan wawasan. Membiasakan hidup rapi dan teratur serta mampu menjaga barang miliknya. Mengenal kebutuhan       hidup (primer, sekunder dan tersier). Belajar membiasakan diri untuk menjaga anggota badan dari perbuatan buruk. Mengenal adap pergaulan lawan jenis dalam islam. Belajar mengendalikan emosi. Belajar berteman dan mengenali lingkungan sekitar. Mengajak teman dan berbuat kebaikan. 
5.Memiliki Kemampuan Membaca, Menghafal dan Memahami Al Qur‟anBelajar membaca Al Qur‟an dengan baik dengan memperhatikan kaidah ilmu tajwid. Menghafal sebagian Al Qur‟an
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  juz 30 dan ayat pilihan. Khatam Al Qur‟an 2 kali. Membaca terjemah sebagian Al Qur‟an juz 30.
6.Memiliki        Wawasan yang LuasMenghafal 30 penggalan hadist arba‟in. Mengenal siroh nabawiyah dan nabi yang bergelar ulul azmi. Mempelajari 6 shiroh sahabat yang dijamin masuk surga. Mengenal Khulafaur Rasyidin. Mengenal ilmuwan muslim. Mengenal tokoh pejuang muslim Indonesia. Mengenal konsep kepemimpinan. 
7.Memiliki Keterampilan HidupMemahami, mengkonsumsi dan membiasakan diri makan makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa. Membiasakan diri makan sesuai sunnah. Mampu menyajikan makanan secara mandiri dan membersihkan peralatan makan/tempatnya. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengenal ciri-ciri badan sehat. Mengenal dasar-dasar medis dan P3K. Mengenal fungsi merawat tubuh
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  dan penampilan. Membiasakan diri tidur sesuai sunnah. Mengenal olah raga renang. Mengenal gerakan dasar beladiri. Belajar       menyeselaikan       tugas tanpa bantuan orang lain. Mampu mengelola uang saku pekanan dengan baik. Belajar       jual      beli      yang menguntungkan. Gemar menabung. Mengenal produksi dalam negri. Belajar mempresentasikan hasil pembelajaran. Belajar       mengunkapkan ide/gagasan dan wawasan.  Mengenal dan memahami kepramukaan-SIT sesuai dengan tingkatannya.

Tabel 4.6 memperlihatkan kompetensi yang diharapkan pada siswa kelas 5 sekolah dasar. Siswa kelas 5 diharapkan memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap konsep-konsep dasar agama Islam dibandingkan siswa kelas 4. Mereka akan mulai menggali lebih jauh tentang makna ibadah, akidah, akhlak, dan sejarah Islam. Selain itu,  siswa kelas 5 diharapkan sudah mulai mampu berpikir kritis tentang ajaran Islam, menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari, menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan nilainilai Islam, dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara lebih konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Tabel 4.7 Pelaksanaan Pendidikan Karakter Islam Kelas VI

NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
1.Memiliki Akidah yang LurusMenghafal, memahami dan mengimani rukun iman dan rukun islam. Menghafal             dan       memahami Asmaul Husna. Terbiasa hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada syaitan. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam kehidupan. Memahami dan berlatih ikhlas dalam beramal.
2.Melakukan           Ibadah yang BenarMampu berwudhuk dengan benar. Mampu adzan dan iqomah. Terbiasa shalat 5 waktu dengan tertib. Bersemangat         dalam shalat jamaah. Membiasakan diri shalat sunnah rawatib. Mengenal dan berlatih shalat Qiyamul Lail. Membiasakan diri berdzikir kepada Allah. Mampu membaca Al Qur‟an
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  dengan tartil. Mampu khatam Al Qur‟an 1 kali. Melatih dan membiasakan diri puasa di Bulan Ramadhan. Mengenal syaum sunnah dalam menghadapi agenda penting di sekolah seperti UN dan Ujian Sekolah. Mengenal malam I‟tikaf. Melaksanakan zakat fitrah. Membiasakan berinfak. Membiasakan niat dalam ibadah kepada Allah. Terbiasa     menyebarkan   dan menjawab salam. Terbiasa membaca Al Matsurat dan wirid ba‟da shalat. Menjaga diri dari dosa-dosa kecil. Membiasakan diri membantu orang yang terkena musibah. Membiasakan diri menutup aurat. Berdoa dalam setiap aktivitas. Belajar melakukan manasik haji. Belajar       amar    ma‟ruf       nahi mungkar.
3.Berkepribadian Matang,        Berakhlak Mulia  Mengenal konsep diri dengan benar. Mengenal dan berlatih bersikap percaya diri yang berlandaskan
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  kepada nilai kebenaran. Mampu mengenal, mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sesuai perkembangannya. Mampu menunjukkan sikap inisiatif, mandiri dan pekerja keras dalam kehidupan seharihari. Berlatih dan menunjukkan rasa malu untuk berbuat kesalahan/dosa. Belajar dan berlatih bersikap tawadhu dan menghormati orang lain. Belajar dan berlatih bersikap pemberani dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Belajar dan berlatih bersikap qonaah dalam kehidupan seharihari. Belajar dan berlatih menepati janjinya kepada orang lain. Belajar       dan      berlatih       berfikir positif kepada orang lain. Belajar dan berlatih memperhatikan adab berbicara kepada orang lain.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Belajar dan berlatih tidak menyebut-nyebut kekurangan orang lain. Belajar dan berlatih menyambung shilaturrohim. Belajar dan berlatih menjenguk dan mendoakan orang yang terkena musibah. Berbakti kepada orang tua dan peduli kepada keluarga. Belajar dan berlatih memuliakan tamu. Belajar dan berlatih senyum, salam & sapa (3 S) terhadap orang lain. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. Belajar dan berlatih dalam menerima kritik dan koreksi dari orang lain. Berlajar dan berlatih menghargai perbedaan dan berempati kepada orang lain. Belajar dan berlatih menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  Menjaga fasilitas umum. Membiasakan sikap hidup ramah lingkungan (go green).
4.Menjadi Pribadi yang Sungguh-Sungguh, Disiplin dan Mampu Menahan Nafsunya Membiasakan diri hadir di sekolah tepat waktu. Membiasakan diri menghargai aturan yang ada. Membiasakan diri belajar dengan baik dan memanfaatkan waktu dengan maksimal. Gemar membaca, menulis dan bercerita. Rajin membaca buku. Menyukai berita edukasi. Membiasakan diri mengunjungi perpustakaan. Belajar       mengungkapkan ide/gagasan dan wawasan. Membiasakan hidup rapi dan teratur serta mampu menjaga barang miliknya. Mengenal kebutuhan       hidup (primer, sekunder dan tersier). Membiasakan diri untuk menjaga anggota badan dari perbuatan buruk. Menjauhi tontonan dan hiburan yang kurang bermanfaat serta permainan yang mengandung
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  unsur judi. Mengenal pengertian riba dan bahayanya. Menahan   diri       dari       berhutang kecuali darurat. Menjaga adap pergaulan lawan jenis dalam islam. Belajar mengendalikan emosi. Belajar berteman dan mengenali lingkungan sekitar. Mengajak teman dan berbuat kebaikan. 
5.Memiliki Kemampuan Membaca, Menghafal dan Memahami Al Qur‟anKhatam Al Qur‟an 3 kali. Membaca terjemah sebagian Al Qur‟an juz 30. Belajar mengaitkan Al Qur‟an dengan realitas kehidupan sesuai tahapan perkembangan.
6.Memiliki        Wawasan yang LuasMampu membaca Al Qur‟an dengan baik dengan memperhatikan kaidah ilmu tajwid. Menghafal Al Qur‟an juz 30 dan ayat pilihan. Menghafal 40 penggalan hadist arba‟in. Mengenal siroh nabawiyah dan nabi yang bergelar ulul azmi. Mempelajari 6 shiroh sahabat
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  yang dijamin masuk surga. Mengenal Khulafaur Rasyidin. Mengenal ilmuwan muslim. Mengenal tokoh pejuang muslim Indonesia. Mengenal konsep kepemimpinan. 
7.Memiliki Keterampilan HidupMemahami, mengkonsumsi dan membiasakan diri makan makanan berlabel halal dan tidak kadaluarsa. Membiasakan diri makan sesuai sunnah. Mampu menyajikan makanan secara mandiri dan membersihkan peralatan makan/tempatnya. Mengenal bahaya rokok, minumminuman keras dan narkoba serta menjauhinya.  Menjaga kebersihan lingkungan. Mengenal ciri-ciri badan sehat. Mengenal dasar-dasar medis dan P3K. Mengenal fungsi merawat tubuh dan penampilan. Membiasakan diri tidur sesuai sunnah. Mengenal olah raga renang. Mengenal gerakan dasar beladiri. Belajar       menyeselaikan       tugas
NO.STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)KOMPETENSI
  tanpa bantuan orang lain. Mampu mengelola uang saku pekanan dengan baik. Belajar       jual      beli      yang menguntungkan. Membangun          jiwa enterpreuneurship. Gemar menabung. Mengenal produksi dalam negri. Belajar mempresentasikan hasil pembelajaran. Belajar       mengunkapkan ide/gagasan dan wawasan.  Mengenal dan memahami kepramukaan-SIT sesuai dengan tingkatannya.

Dari Tabel 4.7 terlihat bahwa siswa kelas 6 diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang ajaran Islam, termasuk fiqih, akidah, akhlak, dan sejarah Islam yang lebih kompleks. Selain berpikir kritis, siswa kelas 6 juga diharapkan mampu melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi terhadap berbagai informasi yang berkaitan dengan Islam. Selanjutnya, siswa kelas 6 diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara lebih mandiri dan konsisten dalam segala situasi, termasuk dalam menghadapi tantangan dan permasalahan yang lebih kompleks.. SKL pada siswa kelas 6 juga mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, dengan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan.

2. Pelaksanaan Program Bina Pribadi Islam (BPI) di SD Islam Terpadu Bina Insani  

Semarang

  1. Pengaturan Jadwal program BPI

Mengatur jadwal program Bina Pribadi Islam (BPI) dengan baik adalah kunci untuk memastikan bahwa materi dapat disampaikan secara efektif dan peserta dapat mengikuti dengan baik. Berikut adalah langkahlangkah dan pertimbangan dalam mengatur jadwal program BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan Koordinator BPI:

  1. Identifikasi Durasi Program BPI 
    1. menentukan apakah program akan berjalan dalam jangka pendek (beberapa minggu atau bulan) atau jangka panjang (setahun atau lebih).
    1. Memastikan durasi program sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa.
    1. Penentuan Frekuensi dan Waktu Pertemuan, yaitu sekali seminggu pada jam pelajaran siswa, sebanyak 2 jam pelajaran.
    1. Pembagian Materi dan Topik
      1. Membagi materi ke dalam topik-topik yang akan dibahas dalam setiap pertemuan.
      1. Memastikan setiap topik mendapat waktu yang cukup untuk dibahas dan dipahami oleh peserta.
    1. Rancang Jadwal Terperinci
      1. Membuat jadwal terperinci yang mencakup tanggal, waktu, topik, dan metode pengajaran untuk setiap pertemuan.
      1. Menentukan jadwal untuk kegiatan khusus seperti ujian, evaluasi, atau kegiatan luar ruangan.

Dengan perencanaan dan pengaturan jadwal yang baik, program Bina Pribadi Islam dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan.

  • Metode Pelaksanaan Program BPI

Dalam pelaksanaan program BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani , berbagai metode pengajaran digunakan untuk memastikan bahwa peserta dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik. Beberapa metode yang digunakan di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang:

  1. Ceramah, digunakan untuk penyampaian materi oleh guru pembimbing.
    1. Diskusi kelompok, dilakukan dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil. Hal ini dilakukan untuk siswa kelas 4, 5, dan 6.
    1. Praktik langsung, dilakukan dengan mempraktikkan ibadah atau kegiatan keagamaan seperti sholat, wudhu, dan baca Al-Quran di sekolah.
    1. Hafalan dan pembacaan Al-Quran, dimana siswa diajarkan untuk menghafal dan membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar.
    1. Pemutaran film atau video, menggunakan media audio-visual seperti film dokumenter, video ceramah, dan animasi untuk menyampaikan materi.
    1. Kegiatan luar ruangan, seperti tahfidh camp.
    1. Pembinaan personal (mentoring), yaitu pendekatan personal untuk memberikan bimbingan dan nasihat individual kepada peserta.

Dengan menggunakan berbagai metode ini, program BPI dapat disampaikan dengan cara yang menarik, interaktif, dan efektif, sehingga dapat mencapai tujuan-tujuan pembinaan dengan lebih baik.

  • Keterlibatan Guru dan Siswa dalam Program BPI

Keterlibatan guru dan siswa dalam program BPI sangat penting untuk memastikan keberhasilan program. Berikut adalah peran dan tanggung jawab guru dan siswa dalam program BPI berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap Koordinator BPI SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang

  1. Peran dan tanggung jawab guru pembimbing
    1. Melakukan perencanaan dan penyusunan materi sesuai dengan tujuan program dan kebutuhan siswa.
    1. Mengajar, membimbing, serta mengawasi kegiatan siswa selama program berlangsung.
    1. Melakukan evaluasi terhadap kemajuan siswa, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan menyesuaikan metode pengajaran sesuai dengan hasil evaluasi.
    1. Memberikan bimbingan personal (mentoring) kepada siswa untuk membantu mereka mengatasi masalah pribadi atau kesulitan dalam memahami materi.
  2. Peran dan tanggung jawab siswa
    1. Berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh.
    1. Menyelesaikan tugas dan hafalan yang diberikan oleh guru pembimbing.
    1. Aktif berinteraksi, bertanya, dan berdiskusi baik dengan guru maupun dengan sesama peserta.
    1. Berusaha mengimplementasikan nilai-nilai dan ajaran yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan keterlibatan aktif dari guru dan siswa, program BPI dapat berjalan dengan lebih efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan. Selain itu, keterlibatan aktif guru dan siswa akan menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan mendukung perkembangan pribadi dan spiritual yang lebih baik[24].

d. Tantangan yang Dihadapi dan Cara Mengatasinya

Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan kepada koordinator dan guru pembimbing BPI, menjalankan program BPI memiliki tantangan yang beragam. Berikut ini adalah tantangan yang pernah dihadapi dan solusi yang dilakukan.

  1. Keterbatasan sumber daya, diantaranya kekurangan dana, fasilitas, dan bahan ajar yang memadai.

Solusi: mencari dana melalui donator atau penggalangan dana, memanfaatkan sumber daya digital yang tersedia gratis atau dengan biaya minimal. 

  • Kualitas pengajar, diantaranya kurangnya pengajar yang kompeten dan berpengalaman dalam bidang pendidikan Islam.

Solusi: mengadakan pelatihan dan workshop untuk meningkatkan kompetensi pengajar, merekrut pengajar yang memiliki kualifikasi dan pengalaman yang memadai, dan menggunakan mentor atau pembimbing yang bisa membantu pengajar dalam proses pengajaran.

  • Evaluasi dan umpan balik, diantaranya kurangnya sistem evaluasi yang efektif untuk mengukur kemajuan peserta dan efektivitas program.

Solusi: menggunakan berbagai metode evaluasi seperti ujian, observasi, dan penilaian diri melalui lembar penilaian diri dan lembar mutaba‟ah yaumiyah peserta didik, mengumpulkan umpan balik dari peserta dan pengajar untuk melakukan perbaikan terusmenerus.

  • Dukungan orang tua, diantaranya kurangnya dukungan dari orang tua untuk mengevaluasi pelaksanaan program BPI siswa di rumah. Solusi: mengadakan sosialisasi dan komunikasi yang efektif untuk menjelaskan manfaat program kepada orang tua pada pertemuan wali murid dan membuat kegiatan yang melibatkan orang tua untuk mendukung program.

Menghadapi          tantangan-tantangan   tersebut       memerlukan perencanaan yang matang, koordinasi yang baik, serta komitmen dari semua pihak yang terlibat. 

3. Evaluasi Program Bina Pribadi Islam (BPI) di SD Islam Terpadu Bina Insani  

Semarang

a. Proses Evaluasi Program

Proses evaluasi program BPI adalah langkah penting untuk menilai efektivitas program, kemajuan peserta, dan kebutuhan perbaikan. Berikut adalah langkah-langkah yang digunakan dalam proses evaluasi program BPI berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap Koordinator BPI:

  1. Perencanaan evaluasi
    1. Menetapkan tujuan evauasi, seperti menilai pencapaian tujuan program dan efektivitas metode pengajaran.
    1. Mengidentifikasi kriteria yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan program, seperti pemahaman materi dan peningkatan akhlak.
  2. Pengumpulan data
    1. Melakukan diskusi dengan guru dan pihak terkait untuk mendapatkan wawasan tentang pengalaman dan pandangan mereka.
    1. Mengobservasi secara langsung selama sesi pengajaran atau kegiatan untuk menilai interaksi, keterlibatan, dan penerapan materi.
    1. Ujian tengah dan akhir semester untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang telah diajarkan.
  3. Analisis data, yaitu mengidentifikasi area yang perlu perbaikan dan area yang telah berhasil.
  4. Penyusunan laporan evaluasi untuk disampaikan kepada pemangku kepentingan, seperti kepala sekolah dan orang tua.
  5. Tindak lanjut dan perbaikan
    1. Membuat rencana perbaikan berdasarkan rekomendasi dari laporan evaluasi,  
    1. Menerapkan perubahan yang telah direncanakan,
    1. Melakukan evaluasi ulang secara berkala untuk memastikan bahwa perubahan yang diterapkan efektif.
  6. Indikator Keberhasilan untuk Mengukur Kedisiplinan Beribadah Siswa Untuk mengukur keberhasilan dalam hal kedisiplinan beribadah siswa dalam konteks program BPI, beberapa indikator dapat digunakan untuk menilai sejauh mana siswa mengikuti dan mempraktikkan ajaran Islam secara disiplin. Berikut adalah indikator-indikator keberhasilan yang digunakan di SD Islam Terpadu Bina Insani untuk mengukur kedisiplinan beribada siswa berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap koordinator dan guru pembimbing BPI:
    1. Kepatuhan terhadap jadwal ibadah, misalnya jumlah dan konsistensi siswa dalam melaksanakan sholat lima waktu sesuai jadwal.
    1. Kualitas dan keberagaman ibadah, misalnya kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar dan peningkatan kualitas bacaan, serta jumlah ayat atau surat yang dihafal oleh siswa dan tingkat kemampuannya dalam mengingat dan melafalkan hafalan.
    1. Penerapan prinsip-prinsip islam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pelaksanaan amalan sunnah seperti puasa sunnah dan shalat duha.
    1. Partisipasi dalam kegiatan keagamaan, misalnya partisipasi aktif siswa dalam kegiatan keagamaan di sekolah, seperti kegiatan donasi untuk duafa dan palestina.
    1. Pemahaman dan pengetahuan agama, misalnya kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan dan berdiskusi tentang topik agama dengan benar dan hasil penilaian ujian siswa.
    1. Kemandirian dalam beribadah, misalnya kemampuan siswa untuk melaksanakan ibadah secara mandiri tanpa perlu dorongan atau pengawasan terus-menerus.
    1. Keseimbangan antara ibadah dan kegiatan lain, misalnya kemampuan siswa untuk menyeimbangkan antara ibadah, belajar, dan kegiatan ekstrakurikuler dengan efektif.
  7. Feedback Guru dan Siswa

Feedback dari guru dan siswa mengenai program BPI sangat penting untuk menilai efektivitas program dan melakukan perbaikan. Berikut adalah aspek-aspek untuk menganalisis feedback dari kedua belah pihak di SD Islam Terpadu Bina Insani berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada koordinator dan guru pembimbing BPI:

  1. Feedback guru
    1. Kualitas materi dan kurikulum, diantaranya apakah materi yang disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan program, serta apakah kurikulum memadai dan relevan.
    1. Metode pengajaran, diantaranya bagaimana efektivitas metode pengajaran yang digunakan dan apakah ada metode yang perlu ditingkatkan atau diubah.
    1. Dukungan dan sumber daya, diantaranya apakah guru merasa cukup didukung dengan sumber daya dan fasilitas yang tersedia dan adakah ditambah atau diperbaiki.
    1. Pengalaman dan pelatihan, diantaranya apakah guru memerlukan pelatihan untuk mengajar materi.
    1. Keterlibatan dan motivasi siswa, diantaranya apakah guru melihat perbedaan dalam keterlibatan dan motivasi siswa.
    1. Feedback siswa
      1. Kepuasan terhadap materi, diantaranya apakah siswa merasa materi yang diajarkan bermanfaat.
      1. Partisipasi dan Keterlibatan, diantaranya apakah siswaa merasa memiliki kesempatan untuk aktif berkontribusi.
      1. Dukungan dan bantuan, diantaranya apakah siswa merasa mendapatkan dukungan yang cukup dari guru? 
      1. Penerapan Praktis, diantaranya apakah siswa merasa bahwa apa yang mereka pelajari dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari mereka dan apakah mereka merasakan perubahan positif dalam praktik ibadah mereka.
  2. Rencana Pengembangan Program BPI ke depan

Untuk mengembangkan program BPI ke depannya, diperlukan langkahlangkah dan pertimbangan dalam rencana pengembangan program. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada koordinator BPI di SD Islam Terpadu Bina Insani , berikut langkah-langkah dalam pengembangan program BPI yang telah dilakukan oleh koodinator dan guru BPI:

  1. Mengevaluasi program saat ini, yaitu dengan melihat hasil evaluasi akhir, termasuk feedback dari guru dan siswa.
    1. Mengembangkan kurikulum dan materi, yaitu dengan mengintegrasikan materi baru yang sesuai dengan perkembangan zaman, seperti teknologi dan media sosial dalam konteks Islam, termasuk dengan melibatkan ahli atau ulama untuk memastikan akurasi dan relevansi ajaran.
      1. Memberikan pelatihan kepada guru, yaitu pelatihan berkelanjutan untuk guru agar mereka dapat mengadopsi metode pengajaran terbaru dan meningkatkan keterampilan mereka.
      1. Menambahkan fasilitas dan sumber daya, yaitu memperbaiki dan tambahkan fasilitas serta sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan program, seperti ruang kelas, bahan ajar, dan perangkat teknologi.
      1. Monitoring dan evaluasi secara berkala, yaitu mengimplementasikan evaluasi yang lebih terstruktur dan berkala untuk terus memantau kemajuan dan efektivitas program.

C.       Pembahasan 

Program adalah susunan rencana kegiatan yang sudah dirancang dan telah disepakati bersama untuk dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Program harus dibuat secara terarah, sebab akan menjadi pengangan sekolah dalam mencapai sebuah tujuan. Selain itu, program juga dapat menjadi tolak ukur dalam mencapai target saat akan melakukan kegiatan dan hasilnya akan dievaluasi pada akhir pelaksanaan program tersebut. Program BPI merupakan program utama dan unggulan yang dirancang oleh Sekolah Islam Terpadu sehingga harus dibuat secara terarah dan terukur agar target yang dibuat dapat tercapai dengan maksimal.

Program BPI dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran wajib di SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang, dimana kegiatannya dimasukkan dalam jam belajar siswa. Menjadikan BPI sebagai salah satu mata pelajaran wajib di Sekolah Islam Terpadu merupakan langkah strategis untuk menanamkan kedisiplinan beribadah siswa.

Pencerminan kedisiplinan beribadah siswa di SD Islam Terpadu Bina Insani dapat dilihat pada Buku Monitoring Bina Pribadi Islam siswa. Buku ini berisi catatan amalan harian siswa dan catatan adab dan akhlak siswa. Lembar catatan amal harian siswa berfungsi memantau ibadah wajib dan sunnah siswa sehari-hari seperti sholat, puaso, doa, zikir, dan lainlain. Sedangkan lembar penilaian adab dan akhlak siswa berfungsi untuk memantau pembiasaan adab dan akhlak islami siswa dalam kehidupan seharihari, di rumah dan di sekolah.

Orang tua/wali murid memantau perkembangan amalan harian dan adab siswa dengan mengisi dan menandatangani buku ini setiap hari. Guru memantau perkembangan amal yaumi dan adab siswa dengan memeriksa buku ini. Hasil observasi dari buku ini digunakan guru sebagai tambahan penilaian pembelajaran Bina Pribadi Islam.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Koordinator BPI Guru Pembimbing BPI, dan wali murid SD Islam Terpadu Bina Insani  Semarang, siswa dapat mengimplementasikan kedisiplinan beribadah yang terbentuk dari program BPI melalui berbagai cara yang mencerminkan pengaruh positif dari program tersebut, yaitu

  1. Konsisten dalam melaksanakan ibadah
    1. Siswa secara rutin melaksanakan sholat lima waktu tepat waktu dan dengan khusyuk. Mereka juga berusaha untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid jika memungkinkan.
    1. Siswa mengamalkan sholat sunnah seperti sholat dhuha, tahajud, dan sholat rawatib secara konsisten.
  2. Peningkatan kualitas bacaan Al-Quran
    1. Siswa membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, hasil dari pembelajaran dalam BPI.
    1. Siswa secara aktif menghafal ayat-ayat Al-Qur’an atau surat-surat pendek, dan melakukan review hafalan secara berkala.
  3. Pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
    1. Siswa menerapkan prinsip-prinsip akhlak Islami dalam interaksi sehari-hari, seperti bersikap jujur, sopan, dan menghormati orang lain.
    1. Siswa melaksanakan amalan sunnah dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca doa sebelum dan sesudah aktivitas, serta menjaga etika makan dan berbicara.
  4. Kedisiplinan dalam aktivitas keagamaan
    1. Siswa melaksanakan puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Ayyamul Bidh (puasa pada pertengahan bulan).
    1. Siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan amal dan sosial, seperti sedekah dan infak.
  5. Pengelolaan waktu yang baik
    1. Siswa mengatur jadwal harian mereka dengan baik untuk memastikan bahwa waktu untuk ibadah tidak terganggu oleh aktivitas lain.
    1. Siswa mampu mengatur waktu dengan efektif, termasuk waktu untuk belajar, beribadah, dan beristirahat.
  6. Keterlibatan dalam kegiatan keagamaan
    1. Siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di sekolah, seperti ceramah dan kegiatan sosial.
  7. Refleksi dan Evaluasi Pribadi
    1. Siswa menulis lembar catatan amalan harian ibadah untuk merefleksikan pelaksanaan ibadah mereka dan mencatat kemajuannya.
  8. Dukungan dan Pembimbingan
    1. Siswa saling mendukung dan berbagi pengalaman dengan teman sebaya dalam melaksanakan ibadah dan amalan keagamaan.
    1. Siswa tidak ragu untuk mencari bantuan dari guru jika menghadapi kesulitan dalam melaksanakan ibadah.
  9. Kepedulian terhadap lingkungan
    1. Siswa menunjukkan perubahan positif dalam lingkungan mereka, seperti membantu keluarga dalam kegiatan keagamaan dan memotivasi teman-teman untuk beribadah.
    1. Siswa terlibat dalam kegiatan sosial yang mengedepankan nilainilai Islam, seperti membantu orang yang membutuhkan atau berpartisipasi dalam proyek amal.
  10. Kemandirian dalam beribadah
    1. Siswa mengambil inisiatif untuk melaksanakan ibadah secara mandiri tanpa perlu pengawasan atau dorongan dari orang lain.
    1. Siswa menunjukkan tanggung jawab dalam menjaga kedisiplinan beribadah meskipun tanpa adanya pengawasan langsung.

Dengan cara-cara tersebut, siswa dapat mengimplementasikan kedisiplinan beribadah yang telah mereka pelajari dan kembangkan melalui program BPI dalam kehidupan sehari-hari mereka, serta menjadi contoh positif bagi orang di sekitar mereka.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.       Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Agung. 2018. Konsep Pendidikan Karakter Islami : Kajian Epistemologis. Jurnal Pendidikan Islam. Vol.3, No.2, pp. 52-70.

Aisah, S. 2019. Peranan   Mentor   Bina    Pribadi   Islam   Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa Kelas VIII SMP IT Bina Insani Metro Tahun Pelajaran 2018/2019. Metro: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

Ajat Sudrajat. 2011. Mengapa Pendidikan Karakter?. Jurnal pendidikan karakter, Vol.1,No. 1, pp. 47-58.

Aminah. 2017. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Sunnah Sebagai Upaya 

Peningkatan  Mutu  Bina  Pribadi  Islami  Pada  Peserta Didik Di SD Islam Terpadu Fitrah Insani Langkapura. Lampung: Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Ani Nur Aeni. 2014. Pendidikan Karakter untuk Siswa SD dalam Perspektif Islam. Jurnal Mimbar Sekolah Dasar. Vol. 1, No.1, pp.  50-58.

Arvian indarmawan. 2014. Upaya peningkatan disiplin ibadah bagi murid madrasah, Vol.1,pp. 2.

Conny Semiawan. 2002. Pendidikan Keluarga Dalam Era Global. Jakarta: PT Prenhalindo.

Departemen  Agama  RI.  2007. Al-Qur’an  dan  terjemahannya  Bandung :  Fajar Mulia.

Fatkhur    Rohman. 2018. Peran    Pendidikan    dalam    Pembinaan    Disiplin    Siswa Disekolah/Madrasah. Vol. 1. pp. 76.

Fauqa N. I dan Hadiyanto. 2021. Implementasi Perencanaan Pendidikan dalam

Meningkatkan Karakter Bangsa melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum.

Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran. Vol. 4, No.3, pp. 541-551.

Hadeli. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Padang: PT Ciputat Press.

Halimatus Sakdiah. 2018. Internalisasi Pendidikan Krakter Islami kepada Anak Sekolah Dasar di SD Plus Nurul Hikmah Pakemasan. Jurnal Penelitian dan Pemikiran Islam. Vol. 5, No.1, pp. 12-22.

Hanafi, A. H. 2015. Metodologi Penelitian Kependidikan. Jakarta: Diadit Media.

Hilda  Ainissyifa.  2014.  Pendidikan  Karakter  dalam  Perspektif  Pendidikan  Islam.

Jurnal Pendidikan Universita Garut. Vol. 8, No.1, pp. 1-26.

Indrawan W.S. 1999. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jombang : Lintas Media.

Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta : Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan.

Kementerian   Pendidikan   Nasional.   2011.   Panduan   Pelaksanaan   Pendidikan

Karakter. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Lexy J Moleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya Marzuki. 2015. Pendidikan Karakter Islam. Jakarta : Amzah.

Moch.   Yasyakur. 2016. Srategi   Guru   Pendidikan   Agama   Islam   dalam   Menanamkan Kedisiplinan Beribadah Shalat Lima Waktu, Vol.5, pp.1196.

Muhab, sukro dkk. 2018. Petunjuk Pelaksanaan Bina Pribadi Islam JSIT Indonesia. Depok : Koperasi berkah usaha terpadu JSIT Indonesia

Muhammad Fazrih. 2011. Disiplin beribadah siswa SMP Islam Assa’adah Pondok Kelapa Jakarta Timur. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan 

Muhsinin. 2013. Model Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam untuk Membentuk Karakter Siswa yang Toleran. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam :

Vol.8, No 2, pp. 205-228.

Nana Sudjana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru.

Nurdin Usman. 2002. Konteks Implementasi Berbasis Kuriklum. Jakarta: PT Raja.

Grafindo Persada.

Nurmadiah.  2018.        Konsep    Dasar    Pendidikan            Karakter.  Jurnal  Al-Afkar. 

Vol.VI,No.2,pp. 33-66.

Pupung Puspa Ardini. 2015. Penerapa  Hukuman,  Bias Antara  Upaya  Menanamkan

Disiplin dengan Melakukan Kekerasan Terhadap Anak. Jurnal Pendidikan Usia Dini. Vol. 9. 

Purwati, Eni. 2014. Pendidikan Karakter. Surabaya: Kopertais IV Press.

Rosma Elly. 2016. Hubungan Kedisiplinan terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII di

SMP Negeri 10 Banda Aceh. Vol. 3, pp. 43

Rubino. 2018. Studi   Korelasi   tentang   Pemahaman   Pentingnya   Ibadah   Shalat   dan Pengamalannya. Vol. 3, pp. 200.

Said Hamid Hasan. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.

Jakarta : Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Samrin. 2016. Pendidikan Karakter (Sebuah Pendekatan Nilai). Jurnal Al-Ta’dib.

Vol.9, No.1, pp. 120-143.

Satori,  D.  dan  Aan  Komariah.  2012.  Metodologi  Penelitian  Kualitatif.  Bandung:

Alfabeta.

Suarning Said. 2017. Wawasan al-Qur’an tentang Ibadah. Vol.15, pp. 48.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : CV Alfabeta. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta.

Sumantri, E. 2008. Seabad Kebangkitan Nasional. Bandung : Yasindo Multi Aspek.

Wahyu  bagja sulfemi. 2018. Pengauh  Disiplin  Ibadah  Shalat, Lingkungan  Sekolah, dan Intelegensi  Terhadap  Hasil Belajar  Peserra  Didik  Mata  Pelajaran  Pendidikan  Agama Islam. Vol .16, pp. 168.

Yuliharti. 2018. Pembentukan Karakter Islami Dalam Hadis Dan Implikasinya Pada Jalur Pendidikan Non Formal. Jurnal Kependidikan Islam. Vol.4, No.2, pp.2016-22.

Zaitun dan Siti Habiba. 2013. Implementasi Shalat Fardhu Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Mahasiswa  Universitas Maritim  Raja  Ali  Haji  Tanjung  pinang. Vol11,  pp. 155.

Zubaedi.  2011.  Desain  Pendidikan  Karakter  :  Konsepsi  dan  Aplikasinya  dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Zulkifli. 2014. Figih  dan  Prinsip  Ibadah  dalam  Islam. Vol.1, pp. 1.


[1] Sumantri, E, Seabad Kebangkitan Nasional, (Bandung : Yasindo Multi Aspek, 2008), h. 3637.

[2] Yuliharti, Pembentukan Karakter Islami Dalam Hadis Dan Implikasinya Pada Jalur Pendidikan Non Formal, Jurnal Kependidikan Islam. 4 no.2 (2018) : 219.

[3] Ibid., h. 220.

[4] Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta : Amzah, 2015), h. 29. 7 Yuliharti, op.cit., h. 223.

[5] Said Hamid Hasan, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta :

Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, (2010), h. 53

[6] Kementerian Pendidikan Nasional, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, (Jakarta : Pusat

Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2010)

[7] Trinaldi, Kepala SDIT Cahaya Madani Lbuk Sikaping, wawancara pribadi, 10 Juni

[8] Aisah, S. ,Peranan   Mentor   Bina    Pribadi   Islam   Dalam Meningkatkan Kecerdasan

Spiritual Siswa Kelas VIII Smp IT Bina Insani Metro Tahun Pelajaran 2018/2019. Institut

Agama Islam Negeri Iain Metro. (2019).p.13

[9] Aminah. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Sunnah Sebagai Upaya  Peningkatan 

Mutu  Bina  Pribadi  Islami  Pada  Peserta Didik Di Sd Islam Terpadu Fitrah Insani Langkapura. Lampung: Islam Negeri Raden Intan Lampung. (2017).p.26

[10] Muhab, sukro dkk, petunjuk pelaksanaan bina pribadi Islami JSIT Indonesia, (Depok :

koperasi berkah usaha terpadu JSIT Indonesia, 2018) h. 2-55

[11] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka  Cipta, 2002), h.

[12] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung : CV Alfabeta, 2015).

[13] Satori, D. dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2012) : h. 22.

[14] Hanafi, A. H, Metodologi Penelitian Kependidikan, (Jakarta: Diadit Media, 2015) : h. 180.

[15] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002) h. 145.

[16] Sugiyono,  Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2007), h. 208-209.

[17] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek.(Jakarta: Rineka Cipta, 2002) h. 134.

[18] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek.(Jakarta: Rineka Cipta, 2002) h.133.

[19] Hadeli, Metode Penelitian Pendidikan, (Padang: PT Ciputat Press  : 2006), h. 6.

[20] Lexy J Moleong,  Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Rosdakarya, 2008),  h. 218. 60 Sugiyono., op.cit. h.89.

[21] Hanafi., op.cit, h. 184.

[22] Hanafi., op.cit, h. 184.

[23] Fetrianis, Koordinator Program BPI di SD IT Cahaya Madani Lubuk Sikaping, (Wawancara: 31 Juli 2024)

[24] Randa Okta Putra, Guru Program BPI di SD IT Cahaya Madani Lubuk Sikaping, (Wawancara: 31 Juli 2024)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *